MAJALENGKA - Pemerintah Kabupaten Majalengka menargetkan sedikitnya 343 sarjana lahir melalui program Satu Desa Satu Sarjana selama lima tahun kepemimpinan Bupati Eman Suherman dan Wakil Bupati Dena Muhamad Ramdhan. Program tersebut diperluas melalui skema Satu Desa Satu Sarjana Plus Bekerja yang menggabungkan pendidikan tinggi dengan persiapan kerja di Jepang.
Bupati Majalengka Eman Suherman meluncurkan program tersebut di SMK PUI Majalengka, Kamis, 8 Oktober 2026. Pada tahap awal, sebanyak 100 mahasiswa penerima beasiswa dari keluarga kurang mampu, khususnya kelompok Desil 1–4, akan mengikuti pendidikan dan pelatihan intensif selama enam bulan bersama Universitas Teknologi Bandung (UTB).
Baca juga: Baedah dan Lima Anaknya Dapat Kepastian Kewarganegaraan Usai Pulang dari Yordania
Eman mengatakan, program itu menjadi salah satu upaya pemerintah daerah untuk memperluas akses pendidikan tinggi sekaligus meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Majalengka.
“Ini menjadi tantangan kita bersama. Karena itu, pendidikan harus menjadi salah satu prioritas. Kita ingin anak-anak Majalengka, khususnya yang berasal dari keluarga kurang mampu, memiliki kesempatan yang sama untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi,” ujar Eman.
Menurut dia, rata-rata lama sekolah masyarakat Majalengka saat ini tercatat 7,81 tahun. Adapun IPM Majalengka berada di angka 72,37. Pemerintah daerah menilai peningkatan akses pendidikan menjadi salah satu langkah untuk memperbaiki capaian pembangunan manusia di daerah tersebut.
Eman menyebut, target program selama lima tahun kepemimpinannya mencapai sedikitnya 343 sarjana dari 334 desa dan kelurahan. Hingga 2026, menurut dia, jumlah sarjana yang dihasilkan melalui program tersebut baru mencapai 170 orang.
“Target kita minimal ada sarjana dari setiap desa dan kelurahan, sampai tahun 2026 baru ada 170. Ini adalah bagian dari komitmen kita agar anak-anak Majalengka mempunyai kesempatan untuk kuliah, terutama mereka yang secara ekonomi memang membutuhkan dukungan,” katanya.
Baca juga: DLH Majalengka Tambah Armada, Sampah yang Diangkut ke TPA Heuleut Capai 90 Ton Sehari
Berbeda dari pelaksanaan sebelumnya yang lebih menitikberatkan pada kesempatan kuliah, program tahun ini juga mempersiapkan peserta untuk bekerja di Jepang. Para mahasiswa akan memperoleh pembekalan bahasa Jepang, kesiapan mental, kedisiplinan, dan keterampilan kerja sebelum menjalani pendidikan sekaligus bekerja di negara tersebut.
Eman berharap, pengalaman pendidikan dan kerja internasional itu dapat menjadi bekal bagi peserta untuk mandiri secara ekonomi setelah menyelesaikan program.
“Kita tidak ingin anak-anak hanya mendapatkan ijazah. Mereka juga harus memiliki keterampilan dan pengalaman kerja. Dengan kuliah sambil bekerja di Jepang, mudah-mudahan ketika pulang ke Majalengka mereka sudah mempunyai ilmu, pengalaman dan bekal ekonomi,” ujarnya.
Baca juga: HUT ke-81 TNI, Ini Pesan Bupati dan Dandim 0617 Majalengka
Pemkab Majalengka juga berupaya memfasilitasi kebutuhan biaya keberangkatan melalui kerja sama dengan pihak perbankan. Skema tersebut disiapkan agar orang tua peserta tidak menanggung beban biaya besar secara mandiri.
Rektor UTB, Muhammad Nasir, mengatakan pihaknya akan mendampingi mahasiswa selama enam bulan masa persiapan. Pendampingan meliputi kemampuan bahasa, kesiapan mental, dan kompetensi yang diperlukan sebelum peserta diberangkatkan ke Jepang.
Program Satu Desa Satu Sarjana Plus Bekerja diharapkan memperluas kesempatan pendidikan bagi keluarga kurang mampu sekaligus meningkatkan daya saing tenaga kerja muda Majalengka.
Editor : Redaksi