SURABAYA — Di balik maraknya kasus perundungan dan kecanduan game online pada anak, tersimpan persoalan yang jauh lebih dalam: luka batin, rasa sepi, dan kurangnya pendampingan.
Fenomena ini kini kian terasa di berbagai ruang yang seharusnya aman bagi anak, misalnya rumah, sekolah, hingga pesantren.
Baca juga: Lia Istifhama Apresiasi Dispora Jatim Perjuangkan Olahraga Masyarakat
Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menyampaikan keprihatinannya atas kondisi tersebut.
Menurutnya, anak-anak hari ini hidup dalam tekanan yang sering kali tak mereka pahami, sementara orang dewasa kerap terlambat menyadarinya.
“Bullying sekarang tidak lagi terjadi jauh di luar sana. Ia hadir di lingkungan terdekat anak, bahkan di tempat yang kita anggap paling aman,” tutur senator yang akrab disapa Ning Lia, Sabtu (17/1).
Ia menilai, perundungan bukan sekadar persoalan perilaku, tetapi cerminan dari kegelisahan batin anak yang belum tertangani. Tak jarang, masalah itu bertaut dengan kecanduan game online, konflik keluarga, hingga kebutuhan akan perhatian dan kasih sayang.
“Banyak anak yang terlihat kuat di luar, tapi rapuh di dalam. Ada yang melampiaskan luka lewat perundungan, ada pula yang memilih bersembunyi di balik layar gawai,” ujarnya
Ning Lia menegaskan, mendidik anak tidak cukup hanya dengan aturan dan nasihat. Yang lebih utama adalah kehadiran orang tua secara utuh mendengar, memahami, dan membersamai.
“Orang tua punya peran besar. Anak jangan sampai menjadi pelaku, tapi juga jangan dibiarkan sendirian saat menjadi korban. Mereka butuh dipeluk, bukan dihakimi,” katanya.
Ia menekankan pentingnya membangun mental anak sejak dini—mental yang berani, tegas, dan tangguh, namun tetap penuh empati.
Baca juga: Anggaran 2026 Dipangkas Hingga 70 Persen, Kepala Desa se-Jawa Timur Mengadu ke Ning Lia
“Ketangguhan bukan berarti keras. Ketangguhan adalah ketika anak punya keberanian untuk berkata jujur, meminta tolong, dan tetap fokus pada kehidupan nyata, bukan lari ke dunia maya,” tambahnya.
Terkait kecanduan game online, Ning Lia menyebut banyak anak dan remaja kehilangan arah karena terlalu lama hidup dalam dunia virtual. Hal itu berdampak pada menurunnya semangat belajar hingga munculnya tekanan psikologis.
“Ketika dunia maya lebih ramah daripada dunia nyata, di situlah kita perlu bertanya: apa yang kurang dari kehadiran kita sebagai orang tua?” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, Ning Lia mengapresiasi hadirnya layanan kesehatan mental yang semakin terbuka dan ramah di Jawa Timur. Menurutnya, fasilitas ini menjadi ruang aman bagi anak dan keluarga untuk mencari pertolongan tanpa rasa malu.
“Sekarang rumah sakit hadir dengan empati, tidak menghakimi. Banyak orang tua sebenarnya ingin membantu anaknya, tapi mereka juga lelah dan bingung. Tempat seperti ini menjadi harapan,” ungkapnya.
Baca juga: Ning Lia Terpukau Kreativitas Gen-Z Rumah Desa Hebat Sampang
Ia menambahkan, biaya layanan kesehatan mental kini semakin terjangkau, sehingga tidak lagi menjadi momok bagi keluarga.
Lebih jauh, Ning Lia menekankan pentingnya edukasi pra-nikah sebagai fondasi membangun keluarga yang sehat secara emosional.
“Mempersiapkan pernikahan sejatinya juga mempersiapkan diri menjadi orang tua. Jika kesiapan mental ini dibangun sejak awal, banyak luka anak bisa dicegah,” tuturnya.
Ning Lia berharap semua pihak keluarga, sekolah, dan negara hadir bersama menjaga tumbuh kembang anak Indonesia.
“Anak-anak kita tidak sedang mencari kesempurnaan. Mereka hanya ingin didengar, dipahami, dan dicintai. Dari sanalah lahir generasi yang kuat dan berakhlak baik,” pungkasnya.
Editor : Redaksi