PEMALANG - Akibat cuaca ekstrem dan gelombang tinggi yang melanda perairan utara Laut Jawa dalam beberapa pekan ini, ratusan nelayan di Pelabuhan Tanjungsari, Pemalang, tidak bisa melaut.Puluhan kapal berukuran besar dan kecil terlihat bersandar di dermaga Pelabuhan Tanjungsari, Pemalang, Jawa Tengah, pada Kamis (11/6).
Banyaknya kapal nelayan yang bersandar membuat dermaga tidak mampu lagi menampung muatan. Akibatnya, kapal-kapal tersebut saling berdesakan dan berpotensi mengalami kerusakan.
Baca juga: Kadis Dindikpora Pemalang: Stop Study Tour, Cuaca Ekstrem Berbahaya untuk Perjalanan
Halim (50), salah satu nelayan, saat dikonfirmasi ketika hendak berangkat melaut mengatakan bahwa dirinya baru mulai melaut lagi untuk mencari ikan setelah beberapa pekan menganggur di rumah.
Ia menjelaskan bahwa akibat cuaca ekstrem dan gelombang besar, banyak nelayan enggan pergi mencari ikan.
"Saya sendiri baru mau melaut, itupun cuma di pinggiran, tidak terlalu ke tengah laut karena cuaca buruk dan angin kencang masih melanda," tuturnya.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada aktivitas perikanan di pelabuhan setempat serta mengganggu perekonomian keluarga nelayan, terutama untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
"Sudah hampir empat bulan suami saya tidak melaut karena cuaca buruk. Kami kesulitan untuk uang belanja karena tidak ada pemasukan. Saya sendiri juga belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah," ujar salah satu istri nelayan yang tidak ingin disebutkan namanya.
Baca juga: Ratusan Nelayan Pemalang Terpaksa Menganggur Dampak Cuaca Ekstrem
Banyaknya kapal nelayan yang memilih tidak melaut dan hanya bersandar di dermaga mengakibatkan pasokan ikan ke tempat pelelangan mengalami penurunan.Pantauan langsung di Pelabuhan Tanjungsari, Pemalang, menunjukkan ratusan kapal nelayan tidak beroperasi dan memilih bersandar.
Mayoritas nelayan menghentikan sementara aktivitas melaut karena kondisi cuaca yang dinilai membahayakan keselamatan.Selain berisiko tinggi, cuaca ekstrem membuat hasil tangkapan tidak sebanding dengan biaya operasional yang harus dikeluarkan.
Hanya beberapa kapal nelayan yang tetap mencoba peruntungan untuk melaut.
Baca juga: Cak Yebe Ingatkan Warga Surabaya Tingkatkan Kewaspadaan Cuaca Ekstrem Saat Nataru
Gelombang tinggi yang disertai angin kencang menjadi faktor utama yang menghambat nelayan bekerja di tengah laut.
Terhentinya aktivitas ini terpaksa membuat sebagian besar nelayan menganggur tanpa penghasilan tetap.Selama menunggu cuaca membaik, aktivitas nelayan terbatas pada perbaikan kapal dan alat tangkap.
Sementara itu, nelayan yang tetap mencoba melaut umumnya hanya beroperasi di sekitar bibir pantai dengan hasil tangkapan yang sangat minim.
Editor : Redaksi