Tak Hanya Bung Karno, Achmad Minta Tokoh dan Semangat Arek Suroboyo Diajarkan

Reporter : Aldi Fakhrudin
Achmad Hidayat

‎SURABAYA - Pemuda Surabaya, Achmad Hidayat, menyoroti wacana Pemerintah Kota Surabaya yang akan menjadikan buku Bung Karno: Aku Arek Suroboyo sebagai materi pembelajaran bagi siswa SD dan SMP.

‎Menurut Achmad, penggunaan buku tersebut, sebagai bahan ajar pada prinsipnya merupakan langkah yang baik. 

Baca juga: MPLS, Achmad Hidayat: Momentum Kenalkan Lagu Indonesia Raya Tiga Stanza

‎Namun, ia mengingatkan agar materi yang diajarkan tidak hanya berfokus pada satu tokoh, melainkan juga mengangkat semangat arek - arek Suroboyo.

‎"Sebagai warga kota Surabaya pada prinsipnya baik, kalau itu digunakan sebagai bahan ajar di sekolah dasar, tapi secara substantif perlu juga ditelaah bahwa Surabaya ini lebih besar daripada tokoh siapapun," ujarnya, pada Kamis (2/7).

‎Menurut Achmad, Surabaya merupakan dapur nasionalisme, kebangsaan, dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sebab kata dia, dalam Pertempuran 10 November 1945 dan melahirkan banyak tokoh besar yang turut mewarnai sejarah bangsa.

‎Achmad menyebut, sejumlah tokoh yang patut dikenalkan kepada para siswa, seperti HOS Tjokroaminoto, Mayjen Moestopo, Gubernur Suryo, Bung Tomo, Adipati Jayalengkara, Pangeran Pekik, hingga Raden Wijaya yang berhasil memukul mundur pasukan mongol di kawasan Surabaya.

‎"Yang lebih besar adalah semangat arek Suroboyo yang menitiskan tokoh-tokoh lokal maupun nasional," ucapnya.

Baca juga: Dukung Pendidikan Gratis, Kader PDIP Surabaya: Termaktub dalam Dasa Prasetya PDI Perjuangan

‎Tak hanya itu ia menilai, nilai-nilai khas Arek Suroboyo juga perlu menjadi titik berat dalam materi pembelajaran.

‎"Semangat arek Surabaya itu egaliter, kolaboratif, lebih cinta damai, tapi sangat cinta kemerdekaan. Itu yang harus diajarkan. Jadi supaya nanti tidak hanya mengkultuskan satu person saja,"  katanya.

‎Selain tokoh-tokoh nasional, Achmad juga menilai kisah pahlawan rakyat seperti Mbok Dar Motir turut layak dimasukkan dalam materi pembelajaran.

Baca juga: Tradisi Suro di Kawasan Gresik PPI: Wayangan “Semar Mbangun Kampung”

‎"Tidak kalah juga di Kota Surabaya ada namanya Mbok Dar Mortir seorang emak-emak yang rela menghibahkan seluruh emasnya Digunakan untuk membeli sembako bagi para pejuang di 10 November," ungkapnya.

‎Kendati demikian, Achmad menegaskan bahwa sejarah harus disampaikan secara utuh agar para siswa memahami rangkaian peristiwa.

‎"Jangan sampai sejarah itu dimunculkan tidak utuh. Jadi, harus ada sebab akibat runtutan sejarahnya yang utuh. Dan harus dijelaskan juga Bung Karno siapa tokoh-tokoh yang mendampingi Bung Karno saat setelah lahir siapa, yang menggembleng dia saat mengajari pidatonya siapa, itu harus dimunculkan juga," pungkasnya.

Editor : Redaksi

Politik
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru