Inspirasi dari Ujung Pantura: 30 Tahun Tak Pernah Telat, Herlinawati Jadi Matahari Pagi di Pemalang

Reporter : Ragil S
Herlinawati

PEMALANG - Suasana pagi di sudut Jalan Jenderal Gatot Subroto, Pemalang, masih terasa sejuk saat jarum jam baru menunjukkan pukul 05.45 WIB.

Di saat sebagian besar warga Kota Bercahaya tersebut mungkin masih bersiap memulai hari, langkah tegap seorang perempuan paruh baya telah memecah keheningan kompleks SMP Negeri 3 Pemalang.

Baca juga: Jelang Pilkades Serentak 2026, Dispermades Pemalang Antisipasi Konflik dan Validitas DPT

Ia adalah Herlinawati (58), seorang guru senior yang telah mendedikasikan hidupnya untuk dunia pendidikan.

Selama tepat 30 tahun pengabdiannya, pemandangan Guru Herlina, begitu biasa ia disapa, tiba di sekolah pada pukul 06.00 WIB seolah menjadi rutinitas sakral yang tak pernah terlewatkan.

Hujan lebat, terik matahari, hingga dinamika perubahan zaman tak sedikit pun menyurutkan langkah disiplinnya.

"Saya selalu percaya bahwa guru adalah cerminan. Bagaimana mungkin kita bisa meminta murid disiplin dan datang tepat waktu jika gurunya sendiri datang terlambat?" ungkap Herlina dengan senyum ramah yang menjadi ciri khasnya saat berbincang dengan awak media, Senin (13/7).

Konsistensi ini bukanlah hal yang mudah. Jarak tempuh dari rumahnya di kawasan Perumahan Bojongbata menuju sekolah sering kali mengharuskannya berangkat sebelum fajar menyingsing.

Namun, baginya, lelah di perjalanan seolah terbayar lunas saat melihat gerbang sekolah dibuka dan ia bisa menyapa siswa-siswinya satu per satu yang mulai berdatangan.

Baca juga: Dindikpora Pemalang Perkuat Perlindungan Anak, AMKB Dorong Sekolah Makin Aman dan Bebas Bullying

"Sekarang sih tempat mengajar saya agak dekat, walaupun saya pernah tugas mengajar di daerah pegunungan, saya selalu on time berangkat mengajar selama 30 tahun," ungkap Herlina, yang juga pernah menjadi kepala sekolah.

Di awal pagi, saat tiba di sekolah pada pukul 06.00 WIB, Herlina kerap menjadi satu-satunya sosok yang berada di lingkungan sekolah.

Namun, seiring berjalannya waktu, kebiasaan baik ini menular. Rekan-rekan sesama guru mulai tergerak untuk datang lebih awal guna mempersiapkan materi ajar dengan lebih matang.

Siswa-siswi yang melihat konsistensi ibu guru yang dikenal dekat dengan para wartawan di mana pun dirinya bertugas pun ikut terdidik.

Baca juga: KPAI hingga DPR RI Soroti Dugaan Kasus Kekerasan Siswa di Pemalang, Sejumlah Pembenahan Disiapkan

Budaya antre, piket kelas pagi, dan suasana belajar yang kondusif langsung terasa sebelum bel masuk berbunyi.

Kepala sekolah setempat sangat mengapresiasi dedikasi luar biasa ini. Bagi sekolah, sosok Herlinawati bukan sekadar tenaga pengajar, melainkan pilar kedisiplinan dan teladan hidup yang tak ternilai harganya.

Kisah dari ujung Pantura ini menjadi bukti nyata bahwa pahlawan tanpa tanda jasa masih ada dan terus berkarya dengan ketulusan.

Apa yang dilakukan Herlinawati di Pemalang merupakan warisan karakter yang jauh lebih berharga daripada sekadar ilmu di papan tulis. Sebuah bukti bahwa kedisiplinan yang dimulai dari hati akan terus menginspirasi generasi penerus bangsa.

Editor : Redaksi

Politik
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru