Kunjungan Kerja ke ITS, Menteri LH Terpikat Inovasi Teknologi Pengelolaan Lingkungan

Reporter : Restu Cahya
Menteri LH di ITS

SURABAYA - Menteri Lingkungan Hidup (LH) Mohammad Jumhur Hidayat terpikat inovasi teknologi pengelolaan lingkungan yang dipamerkan di Gedung Rektorat ITS, Senin (27/7).

Salah satu karya inovasi yang ditampilkan adalah ITS COMPOStech, yaitu mesin ecosmart composter yang mampu mengolah sampah organik hingga 50 kilogram per hari.

Baca juga: Belajar Kemandirian Lembaga, Inabah XIX Sidoarjo Studi Tata Kelola ke Nurul Hayat

Dengan waktu pengolahan maksimal 20 jam per batch, teknologi ini memungkinkan sampah sisa makanan dan dedaunan diproses dengan cepat. Sistemnya juga dirancang untuk meminimalkan bau dan limbah cair serta dapat ditempatkan pada area yang terbatas.

Menurut Jumhur, mesin ini memiliki potensi besar dalam menyelesaikan permasalahan sampah organik di sektor pariwisata, industri makanan, perhotelan, bahkan di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

“Terutama di dapur SPPG yang setiap harinya memproduksi makanan dalam jumlah besar, dibutuhkan mesin yang dapat memproses limbah padat dan cair secara cepat,” ungkap lelaki yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup tersebut.

Selanjutnya, Jumhur juga meninjau ITS Mobile Water Treatment, sistem pengolahan air bersih yang fleksibel dan mudah dipindahkan. Teknologi yang memanfaatkan prinsip elektrokoagulasi tersebut berpotensi diterapkan di berbagai kondisi, termasuk daerah bencana dan wilayah terpencil yang membutuhkan akses air bersih.

Baca juga: Kolaborasi TPS dan Bank Sampah Perak Barat, Warga Sidotopo Wetan Didorong Naik Kelas Kelola Sampah

“Apabila dikombinasikan dengan alat komposter, sistem ini dapat menyelesaikan masalah limbah organik padat dan cair di industri makanan, pariwisata, dan perhotelan,” tegas Jumhur.

Inovasi lain yang ditampilkan pada kunjungan kerja tersebut yaitu superworm dan Siklusin, di mana keduanya sangat mendukung ekonomi sirkular. Pemanfaatan maggot superworm sebagai pendekatan biologis memiliki potensi untuk membantu menguraikan jenis plastik tertentu, terutama expanded polystyrene (EPS) atau styrofoam. Proses tersebut juga berpotensi menghasilkan produk turunan berupa residu organik, biomassa larva, serta isolat mikroba dan enzim.

Sedangkan dari segi kemampuan telusur, Siklusin dapat memonitor transaksi sampah di semua stakeholder secara real time. Transaksi sampah selalu dicatat mulai dari nasabah, bank sampah, sampai ke industri daur ulang. Semua aktor dalam ekosistem Siklusin dipastikan mendapatkan nilai yang konkret, termasuk pemerintah yang bisa mendapatkan akses data sampah sebagai dasar pembuatan kebijakan.

Baca juga: Menag Dua Hari di Jatim Tekankan Pembinaan Akhlak Generasi Bangsa

Sejalan dengan Jumhur, Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati menyampaikan komitmennya dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Bambang juga mengungkapkan bahwa ITS siap menindaklanjuti arahan dari Menteri LH terkait implementasi mesin COMPOStech dan Water Treatment untuk menyelesaikan permasalahan limbah organik di industri makanan.

“Saat ini ITS memiliki peta jalan menuju Net Zero Emission 2026-2030, dan kami (ITS) sangat mengapresiasi dukungan dan kepercayaan yang diberikan oleh KLH RI terhadap inovasi ITS yang mendukung pembangunan berkelanjutan. ITS siap menindaklanjuti permintaan alat komposter ini, tentunya dengan menggandeng industri untuk produksi massal,” tutur Bambang.

Dalam kunjungan kerja ini, Jumhur juga berkesempatan mencoba mobil otonom modular yang dikembangkan oleh tim robotika ITS. Jumhur mengapresiasi keunggulan ITS dalam bidang teknologi melalui inovasi sistem kendali tanpa awak tersebut. Apresiasi ini memperkuat pentingnya peran perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mendukung agenda keberlanjutan.

Editor : Redaksi

Politik
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru