Bullying Jadi Perhatian, SMPN 1 Petarukan Tancap Gas! PPA Dinsos Edukasi Sekolah Ramah Anak

Reporter : Ragil S
Edukasi Sekolah Ramah Anak di SMP 1 Petarukan

PEMALANG - Kasus dugaan perundungan yang mencuat di Kabupaten Pemalang menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan. SMP Negeri 1 Petarukan langsung mengambil langkah preventif dengan memperkuat edukasi dan perlindungan siswa melalui sosialisasi Sekolah Anti-Bullying bersama Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinas Sosial KBPP Pemalang, Kamis (8/10 ).

Kegiatan tersebut diikuti Ratusan siswa sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa bullying bukan sekadar kenakalan atau bahan candaan, melainkan perilaku yang dapat berdampak serius terhadap rasa aman, kepercayaan diri, hingga perkembangan anak.

Baca juga: KPAI hingga DPR RI Soroti Dugaan Kasus Kekerasan Siswa di Pemalang, Sejumlah Pembenahan Disiapkan

Kepala SMPN 1 Petarukan, Purwaningsih, menegaskan sekolah tidak boleh menjadi tempat yang membuat anak merasa terancam maupun tertekan.

“Sekolah harus menjadi tempat yang aman bagi anak-anak. Tidak boleh ada siswa yang merasa takut, tertekan, atau dikucilkan karena perlakuan teman-temannya. Kami terus membangun budaya saling menghargai dan mengingatkan siswa bahwa bullying bukan candaan,” tegas Purwaningsih.

Menurutnya, menciptakan sekolah bebas perundungan tidak cukup hanya dengan membuat aturan. Dibutuhkan kepedulian dan keterlibatan seluruh elemen pendidikan, mulai dari guru, siswa, orang tua hingga instansi terkait.

"Kegiatan seperti ini biasanya digelar pada hari jumat dan kegiatannya berganti ganti,khusus hari ini memang kita bekerja sama dengan dinas sosial PPA untuk berkaitan dengan Bullying, Minimal anak teredukasi apa itu Bullyng dan kenyataanya banyak anak yang tidak tahu dan paham, setelah ini anak jadi paham apa itu Bullyng , bentuknya kan banyak sekali dengan adanya ini anak jadi paham apa itu Bullyng," tegasnya.

Kepsek SMPN 1 Petarukan, menambahkan, jika sekolah tidak bisa sendirian dalam memberikan edukasi terkait Kekerasan terhadap anak atau Bullying.

“Kami tidak bisa sendirian. Diperlukan keterlibatan guru, siswa, orang tua, serta berbagai pihak untuk membangun lingkungan pendidikan yang sehat dan ramah anak,” tutupnya.

Baca juga: Rizal Bawazier Soroti Kasus MHA, Minta Sekolah dan Dinas Bertindak Tegas

Dalam sosialisasi tersebut, siswa diajak mengenali berbagai bentuk perundungan yang kerap terjadi di lingkungan sekitar. Mulai dari kekerasan fisik, ejekan dan ucapan yang merendahkan, pengucilan, hingga perundungan melalui media sosial.

Pesan yang ditekankan kepada siswa cukup tegas: jangan menjadi pelaku, jangan ikut-ikutan, dan jangan diam ketika melihat temannya menjadi korban.

Siswa juga didorong memiliki keberanian untuk melapor apabila mengalami maupun menyaksikan tindakan perundungan.

Sementara itu, Dede Nadiyanah dari Bidang PPA Dinsos Pemalang menegaskan bahwa upaya pencegahan harus dilakukan sejak dini. Menurutnya, anak membutuhkan ruang aman untuk menyampaikan persoalan tanpa takut disalahkan maupun mendapatkan stigma.

Baca juga: Dugaan Bullying Siswa di Pemalang, Ratusan Warga Desak Penanganan Transparan

“Setiap bentuk kekerasan bukan hal yang wajar. Edukasi seperti ini penting agar siswa mampu mengenali tanda-tanda perundungan dan berani bersuara,” ungkap Dede.

SMPN 1 Petarukan memastikan kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai sosialisasi sesaat. Edukasi mengenai anti-bullying akan diarahkan menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam membangun karakter dan budaya sekolah yang positif.

Penguatan empati, komunikasi antarsiswa, pengawasan lingkungan sekolah serta keberanian untuk melapor akan terus ditingkatkan.

Langkah tersebut menjadi bentuk keseriusan SMPN 1 Petarukan dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, sehat, nyaman dan ramah anak.Sebab, sekolah bukan hanya tempat mengejar nilai dan prestasi. Sekolah harus menjadi ruang bagi anak untuk belajar, tumbuh, berteman dan mengembangkan potensi tanpa dihantui rasa takut.

Editor : Redaksi

Politik
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru