Senator Lia Apresiasi Transformasi RS Menur Surabaya

Reporter : Anil Rachman
Ning Lia di RS Menur

SURABAYA — Suasana hangat terasa saat Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, melangkah menyusuri lorong-lorong Rumah Sakit Menur Surabaya.

Kunjungannya bukan sekadar agenda seremonial, melainkan upaya melihat langsung perubahan besar yang kini menjadikan RS Menur lebih ramah, modern, dan penuh harapan bagi masyarakat.

Baca juga: Tak Berjarak: Senator Jawa Timur Lia Istifhama Konsisten “Mudun Ngisor”

Senator yang akrab disapa Ning Lia itu tak menampik rasa bangganya. Rumah sakit yang dulu lekat dengan stigma sebagai rujukan kesehatan jiwa, kini menjelma menjadi pusat layanan kesehatan yang lebih lengkap menyentuh sisi fisik, mental, hingga tumbuh kembang anak dan remaja.

“RS Menur hari ini sangat berbeda dengan yang kita kenal dulu. Pelayanannya jauh lebih luas, fasilitasnya modern, dan yang paling penting, suasananya lebih manusiawi,” tutur Ning Lia, Jum'at (16/1)

Ia mengenang masa awal pandemi Covid-19 pada 2020, ketika RS Menur identik dengan layanan kesehatan mental. Namun perlahan, rumah sakit ini berbenah. Wajahnya berubah, tidak hanya pada bangunan, tetapi juga pada pendekatan pelayanan yang kini menempatkan pasien sebagai manusia utuh bukan sekadar objek medis.

Menurut Ning Lia, transformasi ini sejalan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur di bawah kepemimpinan Gubernur Khofifah Indar Parawansa, yang mendorong fasilitas kesehatan daerah agar adaptif terhadap tantangan zaman dan kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks.

“Sekarang di sini ada layanan rawat jalan, rawat inap, rehabilitasi, psikologi, hingga kesehatan anak dan remaja. Ini lompatan besar,” ujarnya.

Perubahan RS Menur tak berhenti pada penambahan layanan. Ruang yang dulu menjadi Instalasi Gawat Darurat (IGD), kini disulap menjadi ruang tunggu yang nyaman. Kursi empuk, pencahayaan hangat, hingga fasilitas kafe menciptakan suasana yang menenangkan bagi pasien dan keluarga.

Bagi Ning Lia, hal ini mencerminkan perubahan cara pandang dalam pelayanan kesehatan.

Baca juga: Tak Berjarak: Senator Jawa Timur Lia Istifhama Konsisten “Mudun Ngisor”

“Ini bukan soal gedung yang lebih cantik, tapi bagaimana rumah sakit menghadirkan rasa aman, tenang, dan dihargai bagi pasien. Aspek psikologis itu penting dalam proses penyembuhan,” katanya.

Ia juga menyoroti keberhasilan medis yang kini mulai dicapai RS Menur, salah satunya keberhasilan tim dokter menangani persalinan bayi kembar. Menurutnya, capaian ini menunjukkan bahwa peningkatan fasilitas berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia tenaga kesehatan.

“Tenaga medis di sini bekerja dengan profesional dan penuh dedikasi. Ini patut diapresiasi,” imbuhnya.

Bagi Ning Lia, transformasi RS Menur juga membawa dampak sosial yang besar. Fasilitas kesehatan mental yang semakin terbuka dan ramah membuat masyarakat tak lagi takut atau malu mencari bantuan.

“Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Ketika tempatnya nyaman dan pelayanannya manusiawi, masyarakat akan lebih berani datang dan terbuka,” tegasnya.

Baca juga: E-Katalog Versi 6, Lia: Persaingan Lebih Adil dan Terbuka

Sementara itu, Direktur RSJ Menur Surabaya Fitria Dewi mengungkapkan bahwa perubahan ini berdampak langsung pada meningkatnya kepercayaan masyarakat. Sepanjang 2025, kunjungan IGD meningkat menjadi 9.272 pasien, naik dari 7.543 kunjungan pada tahun sebelumnya.

Lonjakan signifikan juga terjadi pada layanan rawat jalan yang mencapai 77.920 kunjungan, meningkat dari 62.167 kunjungan pada 2024. Pasien rawat inap jiwa naik menjadi 6.908 orang, sementara rawat inap non-jiwa melonjak tajam menjadi 1.013 pasien.

Tak hanya itu, efisiensi pelayanan juga semakin baik. Lama hari perawatan pasien (ALOS) terus menurun, menandakan tata kelola medis yang semakin efektif. Sementara tingkat hunian tempat tidur (BOR) mencapai 80,42 persen, angka ideal yang menunjukkan pemanfaatan fasilitas berjalan optimal.

Transformasi RS Menur Surabaya hari ini bukan sekadar perubahan institusi kesehatan, melainkan perjalanan panjang menuju pelayanan yang lebih inklusif, penuh empati, dan berorientasi pada kemanusiaan tempat di mana setiap pasien merasa diterima, didengar, dan dirawat dengan hati.

Editor : Redaksi

Politik
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru