Medusa (2021): Ketika Kesalehan Menjadi Wajah Baru Kekerasan

Reporter : Nita Rosmala
Medusa (2021) tangkapan layar

JAKARTA - Perempuan baik-baik tidak marah. Tidak membantah. Tidak keluar jalur. Di dunia Medusa, kalimat semacam itu bukan hanya nasihat, tetapi adalah hukum tak tertulis yang dipatuhi dengan penuh ketakutan.

Film karya Anita Rocha da Silveira ini mengambil latar kota modern Brasil, tapi atmosfernya terasa seperti dunia yang dikunci oleh moral palsu.

Baca juga: The Judge from Hell (2024): Ketika Keadilan Turun Bukan untuk Mengampuni

Tokoh utamanya, Mariana (Mari Oliveira), adalah remaja perempuan religius yang hidup dalam komunitas salah satu keagamaan

Rambutnya panjang, sikapnya tertib, hidupnya terlihat “bersih”. Namun di balik kesalehan itu, ada amarah yang tak pernah diberi ruang untuk bernapas.

Setiap malam, Mariana dan kelompok perempuannya berpatroli. Mereka berburu perempuan lain yang dianggap berdosa, liar, terlalu bebas. 

Wajah-wajah itu dirusak, dihajar, dilukai. Kekerasan dilakukan atas nama iman. Atas nama menjaga moral. Atas nama Tuhan.

Medusa tidak memposisikan pelaku dan korban secara sederhana. 

Baca juga: The Texas Chain Saw Massacre (1974): Teror yang Lahir dari Dunia yang Kehabisan Belas Kasih

Mariana bukan monster sejak awal. Ia tumbuh dalam sistem yang mengajarkannya untuk membenci tubuhnya sendiri, menekan hasratnya, dan mencurigai kebebasan sebagai ancaman. 

Kekerasan menjadi cara paling mudah untuk tetap merasa “benar”. Visual film ini dingin dan terkontrol. 

Wajah-wajah perempuan tampak seperti patung indah, tapi kaku. Warna pastel dan cahaya terang justru mempertegas horor yang sunyi. 

Tidak ada darah berlebihan, tapi setiap luka terasa politis. Tubuh perempuan menjadi medan perang nilai-nilai yang tidak pernah mereka pilih sendiri.

Baca juga: The Texas Chain Saw Massacre (1974): Teror yang Lahir dari Dunia yang Kehabisan Belas Kasih

Judul Medusa bukan kebetulan. Dalam mitologi, Medusa dihukum karena menjadi korban. Dalam film ini, Medusa hidup sebagai simbol, perempuan yang dihukum karena eksistensinya, lalu dipaksa menjadi menakutkan agar bisa bertahan.

Yang paling mengganggu dari film ini adalah kesadarannya bahwa kekerasan terhadap perempuan sering kali tidak datang dari kebencian terang-terangan, melainkan dari cinta yang keliru, iman yang sempit, dan moral yang tidak pernah dipertanyakan.

Film ini bukan tontonan nyaman. Ia dingin, keras, dan sengaja menjauhkan penonton dari simpati instan. Tapi justru di situlah kekuatannya. Medusa adalah cermin retak tentang bagaimana sistem bisa mengubah korban menjadi pelaku tanpa mereka sadari.

Editor : Redaksi

Politik
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru