JAKARTA - Di dunia mafia, kekuasaan hampir selalu diasosiasikan dengan laki-laki, senjata, uang, dan kekerasan yang dipamerkan tanpa ragu. Women of Mafia datang untuk merusak bayangan itu.
Film Polandia karya Patryk Vega ini justru menyorot perempuan bukan sebagai hiasan, melainkan sebagai penyintas dalam sistem kriminal yang kejam dan patriarkal.
Baca juga: The Judge from Hell (2024): Ketika Keadilan Turun Bukan untuk Mengampuni
Tokoh utamanya, Belka (Agnieszka Dygant), polisi perempuan yang menyusup ke jaringan mafia narkoba. Ia masuk bukan dengan heroisme berlebihan, melainkan dengan tubuh dan mental yang perlahan dihancurkan oleh peran yang ia mainkan.
Di dunia itu, kepercayaan dibeli dengan luka, dan kesetiaan dibayar mahal. Namun film ini tidak berhenti pada satu perempuan.
Women of Mafia adalah tentang banyak perempuan dengan posisi berbeda, istri mafia, simpanan, polisi, hingga perempuan yang terpaksa ikut tenggelam karena pilihan orang lain. Mereka hidup di ruang abu-abu tidak sepenuhnya korban, tapi juga jarang diberi kesempatan menjadi pemenang.
Baca juga: The Judge from Hell (2024): Ketika Keadilan Turun Bukan untuk Mengampuni
Patryk Vega menyutradarai film ini dengan gaya brutal dan tanpa basa-basi. Kekerasan ditampilkan terang-terangan, dialognya tajam, dan dunia mafia digambarkan dingin serta transaksional. Tapi di balik itu, ada kegelisahan yang terus berdenyut: bagaimana perempuan dipaksa menyesuaikan diri di sistem yang tidak pernah dirancang untuk melindungi mereka.
Belka bukan tokoh yang selalu benar. Ia membuat keputusan keliru, kehilangan kendali, dan berkali-kali hampir runtuh. Tapi justru di sanalah film ini terasa jujur. Perempuan di Women of Mafia tidak diglorifikasi. Mereka bertahan, bukan karena kuat sejak awal, melainkan karena tidak punya pilihan lain.
Baca juga: The Texas Chain Saw Massacre (1974): Teror yang Lahir dari Dunia yang Kehabisan Belas Kasih
Dalam dunia mafia, perempuan tidak diminta berani. Mereka hanya dituntut bertahan apa pun risikonya. Women of Mafia bukan film yang halus. Ia kasar, bising, dan penuh darah.
Namun di balik semua itu, terselip cerita tentang tubuh perempuan yang terus dinegosiasikan antara kekuasaan, cinta, dan pengkhianatan. Sebuah pengingat bahwa di dunia kriminal sekalipun, luka paling dalam sering kali bukan berasal dari peluru melainkan dari kepercayaan yang salah alamat.
Editor : Redaksi