The Judge from Hell (2024): Ketika Keadilan Turun Bukan untuk Mengampuni

Reporter : Nita Rosmala
The Judge from Hell, tangkapan layar

JAKARTA - The Judge from Hell tidak bertanya apakah seseorang pantas dimaafkan. Serial ini langsung melangkah lebih jauh: siapa yang pantas dihukum, dan oleh siapa.

Kang Bit-na (Park Shin-hye) adalah hakim dengan wajah tenang dan putusan tegas. Namun di balik toga dan palu sidang, ia bukan manusia sepenuhnya. Ia adalah makhluk dari neraka yang dikirim ke dunia untuk menghukum para pendosa yang lolos dari hukum manusia mereka yang kejahatannya rapi, berlapis, dan sering kali dilindungi sistem.

Baca juga: The Texas Chain Saw Massacre (1974): Teror yang Lahir dari Dunia yang Kehabisan Belas Kasih

Di sinilah serial ini menemukan denyutnya. The Judge from Hell bukan sekadar fantasi supranatural, melainkan kritik terhadap keadilan yang timpang. Hukum berjalan, sidang digelar, putusan dibacakan namun korban tetap kalah. Ketika hukum berhenti bekerja, neraka mengambil alih.

Kang Bit-na menghukum tanpa ragu. Tidak ada ruang belas kasihan, tidak ada diskusi moral. Baginya, kejahatan adalah kejahatan. Namun ironi mulai muncul ketika ia harus hidup di tengah manusia merasakan empati, melihat ketakutan, dan perlahan menyadari bahwa dunia tidak sesederhana hitam dan putih.

Masuklah Han Da-on (Kim Jae-young), detektif yang masih percaya pada keadilan manusia. Ia menjadi penyeimbang sekaligus cermin. Hubungan mereka bukan romansa manis, melainkan tarik-menarik antara nurani dan hukuman absolut. Dari pertemuan itu, muncul pertanyaan yang terus menghantui: apakah menghukum selalu berarti adil?

Baca juga: Women of Mafia (2018): Perempuan yang Bertahan di Dunia yang Tidak Pernah Ramah

Park Shin-hye tampil berbeda dari peran-peran lamanya. Dingin, minim emosi, dan mematikan dalam ketenangan. Justru saat retakan kemanusiaan mulai muncul di wajahnya, karakter Kang Bit-na terasa paling kuat. Ia bukan pahlawan. Ia algojo yang mulai ragu.

Visual serial ini gelap namun rapi. Adegan neraka tidak dibuat berlebihan, tapi cukup untuk menegaskan satu hal: hukuman bukan tontonan, melainkan konsekuensi. Setiap kasus yang diangkat terasa dekat, korupsi, kekerasan, manipulasi, kejahatan yang sering lolos karena kekuasaan dan uang.

Baca juga: Women of Mafia (2018): Perempuan yang Bertahan di Dunia yang Tidak Pernah Ramah

The Judge from Hell tidak menawarkan kenyamanan. Ia memaksa penonton berdiri di wilayah abu-abu, mempertanyakan ulang konsep keadilan yang selama ini dianggap mapan. Apakah keadilan harus manusiawi? Atau justru ketegasan tanpa ampun adalah satu-satunya jalan ketika sistem gagal?

Serial ini gelap, kadang kejam, tapi jujur. Karena mungkin, yang paling menakutkan bukanlah neraka—melainkan dunia yang membiarkan kejahatan berjalan bebas atas nama prosedur.

Editor : Redaksi

Politik
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru