The Other Lamb (2019): Kesalehan yang Menelan Tubuh Perempuan

Reporter : Nita Rosmala

JAKARTA - The Other Lamb tidak berteriak. Ia berbisik pelan, tapi bisikannya menusuk. Film karya Magorzata Szumowska ini adalah kisah tentang iman yang dipelintir, kepatuhan yang diwariskan, dan tubuh perempuan yang dijadikan altar pengorbanan.

Cerita berpusat pada Selah (Raffey Cassidy), gadis remaja yang hidup dalam sebuah kultus terpencil. Di sana, hanya ada satu laki-laki: Shepherd (Michiel Huisman), pemimpin spiritual.

Baca juga: The Judge from Hell (2024): Ketika Keadilan Turun Bukan untuk Mengampuni

Perempuan-perempuan lain hidup sebagai “istri” dan “anak”, tunduk tanpa bertanya, percaya tanpa pilihan.

Dunia Selah dibangun dari ritual, doa, dan ketakutan yang dibungkus kasih. Shepherd tidak memimpin dengan teriakan, melainkan dengan suara lembut dan kalimat suci. 

Kekuasaan dalam film ini bukan brutal secara kasat mata, tapi perlahan, sistematis, dan nyaris tak terlihat persis seperti indoktrinasi.

Ketika tubuh Selah mulai berubah, ketika darah pertama datang, kepercayaannya mulai retak. Mimpi mimpi ganjil menghantuinya visual surealis tentang daging, kelahiran, dan kematian. 

Baca juga: The Texas Chain Saw Massacre (1974): Teror yang Lahir dari Dunia yang Kehabisan Belas Kasih

Dari situlah The Other Lamb bergerak, bukan sebagai film horor konvensional, melainkan perjalanan batin seorang anak perempuan yang mulai sadar bahwa imannya dibangun di atas kebohongan.

Raffey Cassidy tampil luar biasa. Ia tidak banyak bicara, tapi matanya menyimpan pertanyaan yang tumbuh pelan-pelan. Dari kepatuhan menuju kecurigaan. Dari iman menuju keberanian. 

Sementara Michiel Huisman menampilkan Shepherd sebagai figur yang tenang, karismatik, dan justru karena itu sangat berbahaya.

Baca juga: Women of Mafia (2018): Perempuan yang Bertahan di Dunia yang Tidak Pernah Ramah

Lanskap hijau luas terasa kosong, bukan membebaskan. Tubuh perempuan sering ditampilkan sebagai simbol alami, rapuh, dan terus diawasi. 

Darah menstruasi, kelahiran, dan daging menjadi bahasa visual tentang bagaimana agama palsu sering mengontrol tubuh perempuan sebelum pikirannya.

Film ini tidak menawarkan penjelasan panjang atau akhir yang melegakan. Tapi memilih keheningan, memberi ruang bagi penonton untuk merasakan ketidaknyamanan yang sama seperti Selah. Karena kebebasan, dalam kisah ini, tidak datang dengan sorak-sorai melainkan dengan luka.

Editor : Redaksi

Politik
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru