Krisis kepemimpinan dunia hari ini berakar dari satu hal: hilangnya Adab. Tanpanya, masyarakat tidak lagi mampu mengenali ilmu yang benar dan terjebak dalam lingkaran pemimpin palsu. (Syed Muhammad Naquib al-Attas)
Dalam diskursus intelektual Islam modern, istilah Adab sering kali mengalami penyempitan makna menjadi sekadar etiket sosial atau kesantunan berperilaku.
Baca Juga: Arsitektur Pemimpin Sejati
Namun, di tangan Syed Muhammad Naquib al-Attas, Adab dikembalikan pada kedudukannya yang paling fundamental sebagai sebuah konsep metafisika yang menjadi kunci stabilitas peradaban. Beliau menegaskan bahwa Adab adalah pengenalan serta pengakuan akan hak tempat segala sesuatu dalam tatanan penciptaan.
Definisi ini menyiratkan bahwa alam semesta beserta isinya, termasuk ilmu pengetahuan dan manusia, memiliki hierarki dan posisi tertentu yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Ketika seseorang memiliki Adab, ia mampu melihat realitas dan menempatkan segala sesuatu sesuai dengan derajatnya secara tepat.
Kaitan antara Adab dan keadilan atau 'Adl bersifat organis dan tidak terpisahkan. Keadilan adalah kondisi di mana segala sesuatu berada di tempatnya yang benar, sementara Adab adalah tindakan intelektual dan spiritual untuk mencapai kondisi tersebut.
Dengan demikian, hilangnya Adab secara otomatis akan melahirkan kezaliman. Kezaliman di sini bukan hanya bermakna penindasan fisik, melainkan kekacauan berpikir di mana hal-hal yang rendah ditinggikan, dan hal-hal yang esensial justru dipinggirkan.
Tanpa Adab, manusia akan kehilangan kemampuan untuk membedakan antara yang hak dan yang batil, antara otoritas yang sah dan klaim kosong, serta antara ilmu yang bermanfaat dan informasi yang menyesatkan.
Krisis kepemimpinan yang melanda dunia saat ini, dalam pandangan Al-Attas, berakar langsung dari runtuhnya pilar Adab dalam pendidikan. Ketika institusi pendidikan hanya fokus mencetak tenaga kerja tanpa menanamkan pengenalan terhadap hierarki kebenaran, maka lahirlah apa yang beliau sebut sebagai pemimpin palsu.
Pemimpin-pemimpin ini muncul bukan karena kapasitas ilmu atau integritas spiritualnya, melainkan karena kemampuan retorika atau dukungan materi semata.
Masyarakat yang telah kehilangan Adab tidak lagi memiliki kriteria objektif untuk mengenali pemimpin yang sejati, sehingga mereka terjebak dalam lingkaran setan (vicious circle) yang mempromosikan inkompetensi dan pengkhianatan intelektual di puncak kekuasaan.
Lebih jauh lagi, Adab juga mencakup disiplin atas jiwa. Seseorang yang beradab adalah mereka yang mampu mendisiplinkan dirinya untuk tunduk pada kebenaran dan mengakui keterbatasan diri di hadapan Sang Pencipta serta mereka yang lebih berilmu.
Dalam konteks kepemimpinan, seorang pemimpin yang beradab tidak akan bertindak semena-mena karena ia sadar bahwa kekuasaannya adalah amanah yang memiliki "tempat" dan batasan dalam tatanan Ilahi. Ia akan memimpin dengan hikmah, karena hikmah itu sendiri adalah buah ranum dari pohon Adab yang dirawat dengan ilmu yang benar.
Memulihkan Adab pada hakikatnya adalah sebuah upaya rekonstruksi yang dimulai dari pusat kesadaran manusia.
Baca Juga: Opini Publik: Relasi Kuasa Dalam Algoritma
Dalam pandangan Al-Attas, manusia adalah sebuah mikrokosmos atau semesta kecil yang merefleksikan ketertiban makrokosmos—alam semesta yang lebih luas.
Ketika Adab ditegakkan dalam diri, yakni saat seseorang mampu menempatkan akal di atas nafsu dan wahyu di atas spekulasi filosofis yang liar, maka terciptalah harmoni internal. Ketertiban batin inilah yang menjadi prasyarat mutlak bagi terciptanya ketertiban sosial. Mustahil mengharapkan sebuah negara yang adil jika individu-pemimpin di dalamnya masih mengalami disorientasi nilai.
Al-Attas menawarkan Adab sebagai obat penawar yang sangat krusial bagi penyakit desakralisasi. Fenomena desakralisasi ini telah mencabut pesona spiritual dari alam semesta, mengubah hutan menjadi sekadar komoditas kayu, dan memandang manusia hanya sebagai unit ekonomi.
Dengan Adab, alam dan ilmu pengetahuan kembali dipandang sebagai ‘Ayat’ atau tanda-tanda kebesaran Tuhan. Pendekatan ini mengubah cara manusia berinteraksi dengan realitas; ilmu tidak lagi dipelajari untuk mengeksploitasi, melainkan untuk memahami posisi diri di hadapan Sang Pencipta.
Transformasi ini mengubah wajah peradaban dari yang semula bersifat predatoris menjadi kontemplatif dan penuh syukur.
Lebih jauh lagi, pengembalian Adab sebagai fondasi berpikir akan mengubah orientasi pendidikan dari sekadar transfer informasi menjadi transformasi jiwa.
Di era di mana artificial intelligence dan big data mendominasi, kecerdasan kognitif saja tidak lagi cukup. Tanpa Adab, kecerdasan hanya akan melahirkan teknokrat yang mahir namun buta secara moral.
Baca Juga: Menuju Kemanusiaan yang Autentik di Era Algoritma
Adab mengarahkan kecerdasan tersebut menuju Hikmah (kebijaksanaan), yaitu kemampuan untuk menerapkan ilmu secara tepat pada waktu dan tempat yang benar demi tujuan yang mulia.
Manusia yang ber-Adab tidak akan menggunakan kepintarannya untuk memanipulasi sesama, melainkan untuk menjaga keseimbangan tatanan kehidupan agar tetap selaras dengan kehendak Ilahi.
Kepemimpinan yang lahir dari rahim Adab tidak akan mengejar kekuasaan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai instrumen untuk menegakkan keadilan.
Pemimpin yang memiliki Adab adalah mereka yang telah selesai dengan pergulatan egonya sendiri, sehingga setiap kebijakan yang diambil beroperasi dalam harmoni dengan hukum alam dan prinsip moral universal. Inilah yang disebut sebagai kepemimpinan yang membawa Rahmatan lil 'Alamin.
Peradaban yang dibangun di atas fondasi ini bukan hanya stabil secara politik dan maju secara material, tetapi juga tercerahkan secara spiritual. Ia menjadi sebuah peradaban yang mampu memanusiakan manusia, menghargai setiap inci ciptaan, dan menciptakan keadilan yang tidak hanya dirasakan oleh segelintir elit, namun menyentuh setiap lapisan eksistensi.
*)Oleh: Mochamad Chazienul Ulum
Editor : Redaksi