PEMALANG – Pengemudi mobil daring (online) di Kabupaten Pemalang terpaksa menerima kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax (RON 92) yang berdampak langsung pada pengeluaran dan pendapatan mereka.
Risky (30), salah seorang pengemudi, mengaku tidak memiliki pilihan lain selain tetap membeli bahan bakar tersebut demi menjaga kelayakan operasional kendaraannya.
Baca Juga: Seorang Pria Terpeleset dan Tenggelam di Sungai Comal Ditemukan Tewas
"Mau bagaimana lagi. Kalau sudah naik begini, ya, naik. Tidak ada yang bisa kita lakukan. Untuk bisa jalan, ya, terpaksa harus beli," ujarnya saat ditemui pada Sabtu (13/6).
Risky, mantan pengemudi bus malam ini, menjelaskan bahwa dirinya rutin mengisi tangki kendaraannya sebanyak 10 liter setiap hari menggunakan Pertamax.
Menurutnya, jenis bahan bakar itu diperlukan agar mesin kendaraan tetap bekerja dengan optimal, walaupun akhirnya harus mengurangi pendapatannya sebagai pengemudi mobil daring.
Baca Juga: Jelang Pilkades Serentak 2026, Dispermades Pemalang Antisipasi Konflik dan Validitas DPT
Secara terpisah, Ketua Organda Kabupaten Pemalang, Andi Rustono, menuturkan bahwa kenaikan harga BBM ini membuat seluruh pengemudi terkejut. Ia menilai beban pengeluaran kian bertambah di saat pendapatan justru menyusut.
"Kenaikan harga BBM ini membuat seluruh pengemudi daring kaget. Pendapatan mereka kini semakin berkurang dan pengeluaran makin besar," ungkapnya.
Baca Juga: Dindikpora Pemalang Perkuat Perlindungan Anak, AMKB Dorong Sekolah Makin Aman dan Bebas Bullying
Lebih lanjut, dirinya menambahkan bahwa kenaikan harga BBM tersebut tidak bisa diterima begitu saja oleh rakyat.
"Kita tidak boleh pasrah menghadapi kenaikan harga BBM, seperti lonjakan harga Pertamax nonsubsidi yang mencapai Rp16.250 per liter. Kita bisa melakukan langkah strategis, melawan dengan aksi. Kita semua kecewa akan kebijakan ini karena kenaikan BBM akan memengaruhi harga-harga kebutuhan pokok lainnya," ujarnya geram.
Editor : Redaksi