Pelemahan rupiah ke kisaran Rp17.400–17.600 per USD menimbulkan tekanan besar terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Dampak paling cepat dirasakan oleh masyarakat kecil, terutama melalui kenaikan harga pangan, energi, dan biaya hidup.
Baca Juga: Ironi Narsisme Ekologis
Pemerintah perlu menggabungkan strategi stabilisasi pasar, penguatan fundamental ekonomi, dan perlindungan sosial yang terarah untuk mencegah pelemahan rupiah berubah menjadi krisis sosial.
Kita bersama tahu bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik yang rentetan kejadiannya sebenarnya sudah dipicu sejak sebelum pandemi Covid-19 terjadi, dan semakin diperparah dengan fenomena dan dinamika nasional dan global yang terjadi akhir-akhir ini.
Paling tidak ada empat hal yang memicu terjadinya pelemahan rupiah yang terjadi beberapa hari ini, diantaranya:
1. Kebijakan suku bunga “The Fed” yang masih tinggi dimana hal ini menyebabkan terjadinya arus modal keluar dari negara berkembang.
2. Defisit transaksi berjalan akibat impor pangan dan energi yang tinggi.
3. Ketidakpastian geopolitik global yang mendorong investor memilih dolar sebagai aset aman.
4. Kekhawatiran pasar terhadap defisit APBN dan kebutuhan refinancing utang.
Dalam kunjungannya ke Tuban Jawa Timur kemarin Presiden Parobowo Subianto menyatakan statement dalam pidatonya “bahwa masyarakat tidak perlu khawatir dengan melemahnya rupiah terhadap dollar karena masyarakat desa tidak menggunakan dollar”, namun yang perlu diketahui bahwa pelemahan rupiah bukan hanya isu moneter, tetapi isu sosial karena dampaknya langsung menyentuh kebutuhan dasar masyarakat menjadi efek domino yang perlu diwaspadai bersama.
Melemahnya nilai tukar rupiah tentu akan membawa dampak ekonomi dan sosial. Secara makro dan mikro aktivitas pergerakan ekonomi akan terdampak secara signifikan. Paling tidak akan ada empat dampak ekonomi yang akan terjadi jika trend rupiah terus melemah, diantaranya:
A). Terjadinya “imported inflation”, meningkatnya harga barang dan jasa akibat kenaikan biaya atau harga dari luar negeri. Harga gandum, gula dan obat-obatan dan bahan lainnya akan mengalami kontraksi naik akibat situasi ini.
B). Biaya produksi akan semakin meningkat, hal ini disebabkan karena 70-80% bahan baku industri kita masih impor.
C). Mau tidak mau subsidi energi kita akan membengkak karena harus menyesuaikan harga BBM, akibatnya APBN akan semakin tertekan.
D). Utang luar negeri pemerintah dan swasta tentu akan semakin mahal.
Selain dampak ekonomi, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar juga berpotensi menimbulkan dampak sosial terutama pada masyarakat kecil.
Melemahnya rupiah yang tidak terkendali akan terus menggerus mata rantai kekuatan ekonomi bangsa dan hal ini memicu berbagai permasalahan sosial ditengah keberlangsungan bangsa. Paling tidak ada lima dampak sosial yang akan terjadi diantaranya:
a. Kenaikan harga kebutuhan pokok, barang-barang berbasis impor seperti tahu-tempe, mi instan, minyak goreng, dan obat-obatan mengalami kenaikan harga. Keluarga berpendapatan rendah mengalokasikan lebih dari 60% pendapatannya untuk pangan, sehingga kenaikan kecil pun pasti sangat terasa.
Baca Juga: Opini Publik: Nalar Nurani, dan Ketahanan Bangsa
b. Kenaikan harga BBM dan transportasi, Jika harga BBM subsidi dan nonsubsidi naik maka biaya logistik meningkat dan hal ini tentu akan menyebabkan harga pangan makin mahal. Selain itu sektor pekerja informal dan ojek online menjadi segmen yang paling terdampak akibat hal ini.
C. Penurunan daya beli, BPS mencatat 9,48 juta orang keluar dari kelas menengah dalam lima tahun terakhir. Pelemahan rupiah berpotensi mempercepat kemiskinan baru.
D. Risiko PHK dan stagnasi lapangan kerja, APINDO menyebut 70% pengusaha menunda rekrutmen karena fluktuasi kurs. Sektor padat karya (tekstil, alas kaki, makanan minuman) paling rentan.
E. Beban utang rumah tangga meningkat, Keluarga dengan cicilan berbasis dolar atau suku bunga mengambang menghadapi kenaikan cicilan.
Lantas apa yang harus dilakukan pemerintah menghadapi situasi ini ?. Gemantara Indonesia sebagai bagian dari infrastruktur kekuatan bangsa tentu melihat kondisi ini menjadi hal yang harus segera disikapi, pemerintah sebagai lembaga penyelenggara negara yang memiliki kewenangan arah kebijakan tentu harus mengambil langkah strategis.
A). Menjaga kepercayaan pasar sebagai prioritas utama melalui komunikasi kebijakan yang konsisten, disiplin fiskal, dan penguatan koordinasi Kemenkeu–BI–OJK guna menjaga stabilitas serta mencegah tekanan terhadap rupiah.
B). Intervensi Bank Indonesia diperlukan untuk menjaga likuiditas dolar, meredam volatilitas, dan menahan capital outflow melalui kebijakan moneter. Meski bersifat jangka pendek, langkah ini penting untuk merespons ketidakpastian.
C). Optimalisasi Devisa Hasil Ekspor (DHE) dilakukan dengan memperketat penempatan DHE di perbankan nasional, memberi insentif bagi eksportir, dan memperkuat cadangan devisa.
D). Relaksasi bagi industri berbahan baku impor melalui insentif pajak, penundaan bea masuk, dan dukungan pembiayaan UMKM guna menekan kenaikan harga barang.
Baca Juga: Adab dan Lingkaran Setan Pemimpin Palsu
E). Perlindungan sosial perlu diperkuat melalui bantuan pangan, subsidi energi tepat sasaran, bantuan transportasi pekerja informal, serta tambahan anggaran bansos saat tekanan inflasi meningkat.
F). Menjaga stabilitas fiskal dan reformasi struktural dengan mengendalikan defisit APBN, mengurangi ketergantungan impor pangan dan energi, serta mempercepat hilirisasi industri untuk memperkuat ekspor.
Gemantara Indonesia memberikan rekomendasi kebijakan (Prioritas 3 Bulan ke Depan) sebagai berikut ;
Rekomendasi : Stabilitas pasar & komunikasi kebijakan, Intervensi BI terukur, Optimalisasi DHE, Relaksasi industri impor, Bansos & subsidi tepat sasaran, Disiplin fiskal.
Tujuan : Menahan capital outflow, Meredam volatilitas, Menambah cadangan devisa, Menahan kenaikan harga, Melindungi masyarakat kecil, Menjaga kepercayaan investor.
Dampak : Rupiah stabil, Pasar lebih tenang, Penguatan rupiah, Daya beli terjaga, Mencegah kemiskinan baru, Risiko fiskal menurun.
Pelemahan rupiah adalah ancaman ekonomi sekaligus sosial, Jika tidak ditangani dengan strategi terpadu, dampaknya akan paling berat bagi masyarakat kecil: harga pangan naik, daya beli turun, dan risiko kemiskinan meningkat.
Pemerintah harus menggabungkan stabilisasi pasar, penguatan fundamental ekonomi, dan perlindungan sosial yang tepat sasaran untuk mencegah pelemahan rupiah berubah menjadi krisis sosial.
*)Oleh: Dr. Puguh Pamungkas, MM Presiden Gemantara Indonesia
Editor : Redaksi