PEMALANG – Melambungnya harga kebutuhan pokok secara bersamaan membuat pengeluaran rumah tangga tambah membengkak. Bahkan, selembar cuan Rp100 ribu belum tentu cukup untuk memenuhi kebutuhan makan satu keluarga dalam satu hari.
Diyah (35), seorang ibu rumah tangga warga Kecamatan Ampelgading, saat dikonfirmasi mengaku dampak kenaikan kebutuhan pokok sangat dirasakan dirinya sebagai ibu rumah tangga yang bertugas mengelola keuangan pendapatan suaminya.
Baca juga: Potensi Mata Air Melimpah, Warga Desa Banyumudal Masih Andalkan Layanan PDAM untuk Air Bersih
Anggota keluarganya berjumlah empat orang termasuk dirinya. Ia memiliki dua anak, perempuan dan laki-laki, yang salah diantaranya merupakan seorang pelajar. Ia mengeluh dengan mengatakan porsi makan anak laki-lakinya saja cukup banyak.
Dirinya membeberkan untuk berbelanja beras saja dalam satu hari biasanya menghabiskan 2 liter dengan harga Rp30.000 (jika satu liternya seharga Rp15 ribu), ditambah bumbu dapur dan minyak goreng saja sudah hampir Rp50.000.
"Duit Rp100 ribu sehari, paling dapat beras 2 liter Rp30 ribu. Karena kebetulan dua anak sukanya ayam, jadi belinya pun ayam utuh Rp45 ribu. Jadi ya bisa menghabiskan uang Rp100 ribu lebih. Saya biasa masak sehari dua kali, pagi dan sore," kata Diyah, pada Selasa (12/5).
Baca juga: Bocah SD Tewas Tenggelam di Kolam Renang, Polisi Gelar Penyelidikan
Dirinya menambahkan, dengan jumlah anggota keluarga dan porsi makan yang banyak, uang Rp100 ribu tidak cukup untuk sehari, apalagi untuk satu minggu.
Menurutnya satu minggu bisa menghabiskan uang belanja antara Rp800 ribu sampai Rp1 juta. Itu pun belum termasuk jika beli makanan di luar atau jajanan anak-anaknya.
"Jika beli makanan matang di luar, di luar nasi atau beras, itu kan Rp40 ribu sampai Rp60 ribu, hanya menang dapat macam-macam lauknya," terangnya.
Baca juga: Target Rp20 Miliar, 105 Vendor Ramaikan Pemalang Wedding Fair 2026
Melambungnya harga kebutuhan pokok di tengah-tengah kesulitan mendapatkan penghasilan bagi masyarakat menengah ke bawah membuat mereka harus pintar mengelola keuangan keluarga. Salah satunya dengan membuat jajanan dari hasil inovasi masakan sendiri, seperti yang dilakukan Diyah.
"Untuk jajanan, di samping mahal jika beli di supermarket, juga saya khawatir dengan bahannya. Akhirnya, anak saya yang perempuan sering saya ajak bikin jajanan sendiri dari bahan singkong, ketela, atau tempe," tutupnya.
Editor : Redaksi