SURABAYA – Ketua Komisi A DPRD Kota Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko, meminta PT PLN (Persero) memperhatikan waktu pelaksanaan pemadaman listrik bergilir yang belakangan terjadi di sejumlah wilayah Jawa akibat gangguan teknis di PLTU Paiton.
Menurut Cak Yebe sapaan akrabnya, meskipun masyarakat memahami adanya kendala teknis yang menyebabkan pasokan listrik terganggu, PLN diharapkan dapat mengatur jadwal pemadaman agar tidak dilakukan pada jam-jam utama atau prime time yang berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat dan pelayanan publik.
Baca juga: Kawal Sensus Ekonomi 2026, Anas Karno Minta Aparatur Pemkot Surabaya Pastikan Data Valid
"Kami berharap kepada PLN maupun pemerintah pusat agar mekanisme pemadaman listrik ini tidak dilakukan pada waktu-waktu primer atau prime time. Pelayanan kepada masyarakat harus tetap berjalan dengan baik," katanya Senin (22/6).
Politisi asal Partai Gerindra itu mengaku telah berkoordinasi dengan pihak PLN dan meminta agar durasi pemadaman tidak berlangsung terlalu lama. Pasalnya, tidak semua kantor pelayanan publik maupun fasilitas umum memiliki sumber daya listrik cadangan seperti generator set (genset).
Menurutnya, PLN perlu memberikan perhatian khusus terhadap area-area yang berkaitan langsung dengan pelayanan masyarakat, termasuk fasilitas lalu lintas seperti lampu lalu lintas (traffic light).
"Jangan sampai pemadaman listrik terjadi di titik-titik layanan publik maupun traffic light. Kalau lampu lalu lintas mati, tentu bisa menimbulkan kemacetan bahkan berpotensi menyebabkan kecelakaan lalu lintas," ujarnya.
Selain layanan publik, Cak Yebe juga menyoroti tingginya antusiasme masyarakat dalam menyaksikan pertandingan sepak bola dunia melalui kegiatan nonton bareng (nobar) yang digelar di berbagai wilayah Surabaya.
Ia berharap PLN dapat menghindari pemadaman listrik saat berlangsungnya siaran langsung pertandingan Piala Dunia karena kegiatan tersebut menjadi salah satu hiburan masyarakat di tengah tingginya dinamika sosial dan politik.
Baca juga: Komisi A Kawal Solusi Sengketa Lahan Gereja Bethany dan Warga RW 5 Menur Pumpungan
"Kami berharap PLN tidak mematikan listrik saat ada siaran langsung Piala Dunia. Saat ini masyarakat membutuhkan hiburan dan kegiatan nobar menjadi ruang berkumpul yang positif bagi masyarakat," tuturnya.
Menurut Cak Yebe, kegiatan nobar tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga menciptakan ruang diskusi yang lebih santai dan kondusif di tengah berbagai dinamika yang berkembang di masyarakat.
Dari sisi ekonomi, Cak Yebe menilai pemadaman listrik bergilir berpotensi menimbulkan kerugian bagi pelaku usaha, baik skala besar maupun usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Ia mencontohkan pelaku usaha yang bergantung pada perangkat pendingin seperti freezer akan menghadapi risiko kerusakan produk apabila listrik padam dalam waktu yang cukup lama. Kondisi tersebut juga memaksa pelaku usaha mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli genset maupun perangkat pendukung lainnya.
Baca juga: Muhaimin Ajak Warga Surabaya Perbanyak Ibadah dan Sedekah di Tahun Baru Islam 1448 H
"Tentu ada potensi kerugian ekonomi. Pelaku usaha, termasuk UMKM, harus menanggung biaya tambahan karena harus menyediakan genset atau perlengkapan pendukung lainnya. Belum lagi risiko terhadap produk yang membutuhkan pendingin," jelasnya.
Oleh karena itu, Cak Yebe berharap permasalahan teknis yang terjadi di PLTU Paiton dapat segera ditangani sehingga pemadaman listrik bergilir tidak berlangsung berkepanjangan.
"Mudah-mudahan situasi ini tidak berlarut-larut dan PLN bisa segera mengantisipasi sehingga masyarakat tidak terus-menerus terdampak," pungkasnya.
Editor : Redaksi