MAJALENGKA – Pesatnya pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Majalengka dinilai turut membawa tantangan baru berupa meningkatnya potensi peredaran gelap narkotika.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Kepala BNN RI Suyudi Aryo Seto saat memberikan kuliah umum di Auditorium Universitas Majalengka, Kamis (6/8/2026).
Baca Juga: BNN RI dan Pemkab Majalengka Perkuat Sinergi Berantas Peredaran Gelap Narkoba
Bupati Majalengka Eman Suherman mengatakan daerahnya saat ini berkembang pesat dengan hadirnya Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Tol Cisumdawu, Tol Cipali, kedekatan dengan Pelabuhan Patimban, serta Jalur Timur Lingkar Majalengka (Jatilima).
"Majalengka juga didukung bonus demografi karena hampir separuh penduduknya berada pada usia produktif," katanya.
Namun di balik kemajuan tersebut, potensi peredaran narkotika juga meningkat. Berdasarkan data Satresnarkoba Polres Majalengka, sepanjang 2025 berhasil diungkap 61 kasus peredaran narkoba.
Baca Juga: BNN RI dan Pemkab Majalengka Perkuat Sinergi Berantas Peredaran Gelap Narkoba
Sementara hingga pertengahan 2026, sebanyak 36 kasus telah berhasil diungkap dengan barang bukti berupa sabu, tembakau sintetis, psikotropika, dan obat keras terbatas (OKT).
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala BNN RI mengingatkan jaringan narkotika kini semakin kompleks dengan memanfaatkan teknologi digital, media sosial, sistem keuangan modern, hingga jasa logistik.
Baca Juga: BNN RI dan Pemkab Majalengka Perkuat Sinergi Berantas Peredaran Gelap Narkoba
Mengutip World Drug Report, Suyudi menyebut lebih dari 331 juta orang di dunia terpapar narkoba, sedangkan di Indonesia penyalahgunaan narkotika masih didominasi kelompok usia produktif 15 hingga 24 tahun.
"Kami mengajak seluruh mahasiswa dan masyarakat Majalengka berperan aktif menjadi agen perubahan agar daerah tersebut tetap aman, sehat, dan bersih dari narkoba (Bersinar)," tutupnya
Editor : Redaksi