PEMALANG - Kawasan Masjid Agung Kabupaten Pemalang yang seharusnya menjadi tempat ibadah yang khusyuk dan damai, kini diwarnai pemandangan dilematis. Maraknya gelandangan dan pengemis (gepeng) memicu keluhan warga dan jemaah karena dianggap mengganggu ketertiban dan kenyamanan umum.
Setiap memasuki Jumat Kliwon dalam kegiatan pengajian Kliwonan, area pelataran hingga pintu masuk Masjid Agung dipadati puluhan pengemis.
Baca juga: Harkitnas ke-118, Pemkab Majalengka Dorong Kedaulatan Digital dan Perlindungan Tunas Bangsa
Tidak hanya orang dewasa, fenomena ini juga melibatkan anak-anak di bawah umur. Berdasarkan pantauan langsung di lokasi, aktivitas tersebut bahkan kerap berlangsung hingga ke ruas jalan yang merupakan jalur cepat di sekitar kawasan, sehingga memicu kerawanan lalu lintas.
Sejumlah jemaah mengaku risau dengan kehadiran mereka. Beberapa pengemis bahkan dilaporkan kerap memaksa dan mengetuk kaca mobil jemaah saat kendaraan hendak memasuki area parkir masjid.
Warto (50), seorang pengemudi yang mengantarkan rombongan jemaah dari Desa Mengori, mengaku gerombolan pengemis tersebut selalu muncul setiap Jumat Kliwon saat pengajian rutin berlangsung sehingga membuat pemandangan menjadi tidak indah.
"Di samping mengganggu para jemaah, gerombolan pengemis tersebut juga mengganggu keindahan Kota Pemalang yang memiliki slogan indah dan komunikatif," ungkapnya, Jumat (17/7).
Baca juga: Pastikan Ketersediaan Stok Darah Nasional, Dindikpora Pemalang Gelar Aksi Donor Darah
Praktik mengemis di area publik tersebut jelas melanggar Peraturan Daerah Kabupaten Pemalang tentang Ketertiban, Kebersihan, dan Keindahan (K3).
Kabid Trantibumlinmas Satpol PP Kabupaten Pemalang, Agus Sarwono, saat dikonfirmasi membenarkan maraknya pengemis pada setiap kegiatan pengajian Kliwonan.
"Iya, tadi saya jalan kaki lewat depan masjid, ternyata memang banyak pengemis. Terima kasih atas sorotannya. Nanti akan kami koordinasikan dengan pihak Masjid Agung dan saat ini kami juga sedang berkoordinasi dengan Dinas Sosial," ungkapnya.
Baca juga: Pastikan Kelancaran Kendaraan Operasinal, Damkar Pemalang Lakukan Perawatan Berkala
Dilema Sosial dan Budaya Sedekah
Fenomena maraknya pengemis di Masjid Agung yang notabene hanya berjarak beberapa meter dari Kantor Satpol PP dan Kantor Bupati Pemalang memunculkan perdebatan moral di tengah masyarakat. Di satu sisi, Islam sangat menganjurkan sedekah. Namun di sisi lain, memberikan uang secara langsung di jalan justru dinilai dapat menyuburkan praktik eksploitasi dan menjamurnya pengemis musiman.
Pemerintah daerah melalui instansi terkait mengimbau masyarakat agar menyalurkan donasi melalui kotak amal resmi masjid atau lembaga resmi seperti Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), daripada memberikannya langsung di jalan. Langkah ini dinilai lebih tepat sasaran sekaligus membantu menekan angka Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Kabupaten Pemalang.
Editor : Redaksi