CCTV Sekolah Jadi Sorotan dalam Penelusuran Dugaan Kekerasan terhadap Siswa SD di Pemalang

Reporter : Ragil S
Plt Bupati Pemalang, Nurkholes

PEMALANG – Kamera pengawas atau CCTV di sebuah sekolah dasar di Kecamatan Pemalang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, menjadi perhatian dalam penelusuran dugaan kekerasan terhadap seorang siswa kelas II yang kemudian meninggal dunia.

Sorotan terhadap CCTV muncul setelah Plt Bupati Pemalang Nurkholes menyampaikan sistem kamera pengawas di sekolah tersebut tidak berfungsi secara optimal ketika pemerintah daerah meminta penjelasan mengenai peristiwa yang melibatkan korban dan sejumlah siswa.

Baca juga: Siswa SD di Pemalang Meninggal, Keluarga Ungkap Dugaan Kekerasan di Sekolah

Kondisi itu memunculkan pertanyaan mengenai fungsi sistem pengawasan di sekolah, termasuk sejak kapan CCTV tidak berfungsi dan apakah masih terdapat rekaman yang dapat membantu memperjelas rangkaian kejadian.

Namun, belum ada keterangan yang memastikan penyebab kerusakan maupun kapan perangkat tersebut mulai tidak berfungsi. Karena itu, kondisi CCTV tidak dapat langsung dikaitkan dengan dugaan peristiwa yang dialami korban.

Sebelumnya, keluarga korban mengungkap bahwa anak mereka sempat bercerita mengenai dugaan kekerasan yang melibatkan siswa lain. Keterangan tersebut kini masih dalam proses penelusuran dan belum menjadi kesimpulan mengenai penyebab meninggalnya korban.

Ibu korban, Diah Indriati (36), mengatakan kondisi anaknya sempat menurun sebelum menjalani perawatan di fasilitas kesehatan.

Diah mengatakan, setelah ditanya keluarga, anaknya kemudian menceritakan dugaan kejadian yang dialaminya di sekolah.

“Anak saya baru cerita, ‘Iya Bu, saya dipukuli kakak kelas, ada tiga anak.’ Sejak kejadian itu diperiksa, kemudian sempat opname,” ujar Diah saat ditemui di rumahnya, Kamis (1/10).

Korban sempat menjalani perawatan di RSUD dr M Ashari Pemalang sebelum akhirnya meninggal dunia di rumah. Keluarga berharap seluruh rangkaian peristiwa tersebut dapat diperiksa secara menyeluruh.

Nurkholes mengatakan dirinya telah mendatangi sekolah untuk meminta penjelasan mengenai peristiwa yang terjadi.

Berdasarkan informasi awal yang diterimanya, terdapat perselisihan antarsiswa yang kemudian diikuti insiden saling bersenggolan dan pemukulan.

“Tadi kami langsung ke sekolah menanyakan kronologi kejadian. Informasi yang kami dapat, anak MHA memang ada perselisihan, kemudian terjadi senggol-senggolan dan pemukulan,” kata Nurkholes.

Baca juga: Kasus Dugaan Kekerasan di Musrenbangkel Babatan, DPRD Dorong Mediasi

Meski demikian, Nurkholes menegaskan penyebab pasti meninggalnya korban belum dapat disimpulkan. Pemeriksaan medis dan penelusuran lebih lanjut masih diperlukan untuk mengetahui rangkaian peristiwa secara utuh.

“Kejadiannya cukup lama dan ini nanti tentu sudah dilakukan otopsi. Kita tunggu seperti apa hasilnya,” ujarnya.

Dalam proses penelusuran tersebut, kondisi CCTV sekolah menjadi salah satu hal yang perlu dievaluasi. Nurkholes mengatakan sistem pengawasan di sekolah harus dapat berfungsi dengan baik untuk membantu menciptakan lingkungan pendidikan yang aman.

“Yang jelas seluruh sekolah harus kita pasang CCTV dan alat perekam itu harus berjalan,” tegasnya.

Menurut Nurkholes, pemerintah daerah juga akan mengevaluasi mekanisme pengawasan dan pelaporan di lingkungan sekolah. Hal itu diperlukan agar siswa maupun orang tua dapat menyampaikan dugaan kekerasan tanpa merasa takut.

“Biasanya masih ada ketakutan anak untuk melaporkan. Ini yang nanti kita cari formulanya agar sekolah ramah anak dan siapapun yang bertengkar segera melapor,” ujarnya.

Baca juga: Rise and Speak Cegah Kekerasan Seksual di Kampus

Mengenai dugaan kelalaian sekolah, Nurkholes mengatakan berdasarkan informasi awal yang diterimanya, kejadian tersebut belum dapat langsung dikategorikan sebagai kelalaian.

“Ini berdasarkan informasi tadi bukan kelalaian. Pada saat kejadian, siswa sudah ditanya dan tidak ada rasa sakit yang dirasakan,” katanya.

Meski begitu, evaluasi terhadap sistem pengawasan tetap diperlukan. CCTV merupakan salah satu alat yang dapat membantu memperjelas kejadian, meski bukan satu-satunya dasar dalam menentukan kronologi maupun penyebab suatu peristiwa.

Penelusuran kasus ini masih membutuhkan keterangan dari pihak sekolah, siswa yang berada di lokasi, saksi, hasil pemeriksaan medis, serta bukti lain yang relevan.

Keluarga korban kini masih menunggu kejelasan mengenai rangkaian peristiwa yang dialami anak mereka.

Sementara itu, kondisi CCTV menjadi salah satu pertanyaan yang perlu dijawab secara terbuka: apakah perangkat tersebut mengalami gangguan teknis, sejak kapan tidak berfungsi, dan apakah masih terdapat rekaman yang dapat membantu proses penelusuran.

Editor : Redaksi

Politik
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru