Siswa SD di Pemalang Meninggal, Keluarga Ungkap Dugaan Kekerasan di Sekolah

Plt Bupati Pemalang saat mendatangi rumah duka
Plt Bupati Pemalang saat mendatangi rumah duka

PEMALANG – Seorang siswa kelas II sekolah dasar di Kecamatan Pemalang, Jawa Tengah, meninggal dunia setelah sempat mengalami gangguan kesehatan dan menjalani perawatan di rumah sakit.

Di tengah suasana duka, keluarga mengungkap dugaan kekerasan yang disebut terjadi di lingkungan sekolah. Keluarga menyebut, sebelum meninggal, anak tersebut sempat bercerita kepada ibunya mengenai kejadian yang melibatkan sejumlah siswa yang lebih tua.

Baca Juga: Kasus Dugaan Kekerasan di Musrenbangkel Babatan, DPRD Dorong Mediasi

Ibu korban, Diah Indriati (36), mengatakan dirinya awalnya tidak mengetahui dugaan kejadian tersebut. Menurut dia, kondisi anaknya mulai mengkhawatirkan setelah mengalami demam, muntah, serta keluhan sakit pada bagian tubuh tertentu.

Diah mengatakan, saat diperiksa di fasilitas kesehatan, keluarga mendapat penjelasan mengenai kondisi yang diduga berkaitan dengan benturan.

“Anak saya tidak cerita apa yang dialaminya. Saya tahunya saat diperiksa di klinik kesehatan. Dokter bilang sakitnya bukan karena pola makan atau penyakit biasa, katanya seperti ada pukulan,” ujar Diah saat ditemui di rumahnya, Kamis (1/10).

Setelah ditanya keluarga, kata Diah, anak tersebut kemudian menceritakan dugaan kejadian yang dialaminya di sekolah.

“Anak saya baru cerita, ‘Iya Bu, saya dipukuli kakak kelas, ada tiga anak.’ Sejak kejadian itu diperiksa, kemudian sempat opname,” kata Diah.

Korban kemudian sempat menjalani perawatan di RSUD dr M Ashari Pemalang. Namun, kondisi kesehatannya tidak kunjung membaik hingga akhirnya meninggal dunia di rumah.

Diah juga mempertanyakan penanganan pihak sekolah terhadap dugaan kejadian tersebut. Ia mengaku mendapat informasi pihak sekolah telah mengetahui adanya perselisihan antarsiswa.

Menurut Diah, keluarga tidak memperoleh informasi secara lengkap mengenai kejadian maupun kondisi anaknya.

“Pihak sekolah sudah tahu. Bahkan kepala sekolah katanya kalau sudah ketahuan akan mengeluarkan anaknya. Tapi ketika ibu-ibunya datang ke sini, pihak sekolah dan wali murid tidak memberi tahu,” ujarnya.

Keluarga berharap rangkaian kejadian tersebut dapat ditelusuri secara menyeluruh. Mereka juga meminta pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui kondisi medis korban dan memastikan ada atau tidaknya hubungan antara kejadian di sekolah dengan kondisi kesehatan hingga korban meninggal dunia.

Plt Bupati Pemalang Nurkholes turut mendatangi rumah duka. Ia mengatakan pemerintah daerah telah menerima informasi mengenai dugaan kekerasan yang dialami korban.

Menurut Nurkholes, berdasarkan informasi awal yang diperoleh setelah mendatangi sekolah, terdapat perselisihan antarsiswa yang kemudian diikuti insiden saling bersenggolan dan pemukulan.

Baca Juga: Rise and Speak Cegah Kekerasan Seksual di Kampus

“Tadi kami langsung ke sekolah menanyakan kronologi kejadian. Informasi yang kami dapat, anak MHA memang ada perselisihan, kemudian terjadi senggol-senggolan dan pemukulan,” kata Nurkholes.

Ia mengatakan korban setelah kejadian tersebut masih sempat beraktivitas dan masuk sekolah. Sekitar sepekan kemudian, korban mengalami gangguan kesehatan dan menjalani perawatan.

Nurkholes menegaskan penyebab pasti meninggalnya korban masih harus menunggu hasil pemeriksaan medis dan penelusuran lebih lanjut.

“Kejadiannya cukup lama dan ini nanti tentu sudah dilakukan otopsi. Kita tunggu seperti apa hasilnya,” ujarnya.

Ia juga memastikan pemerintah daerah akan melakukan evaluasi terhadap sistem pengawasan di sekolah serta tidak membiarkan dugaan kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan.

Nurkholes turut menyoroti keberadaan kamera pengawas atau CCTV di sekolah. Menurut dia, sistem pengawasan tersebut perlu diperkuat agar dapat membantu menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih aman.

“Yang jelas seluruh sekolah harus kita pasang CCTV dan alat perekam itu harus berjalan,” tegasnya.

Baca Juga: Kekerasan Seksual dan Penganiayaan Terhadap AM, Legislator PSI Serukan Pendampingan Hukum

Pemerintah daerah, kata dia, juga akan mengumpulkan jajaran terkait, termasuk Dinas Pendidikan, untuk membahas mekanisme pencegahan dan pelaporan apabila terjadi dugaan kekerasan terhadap siswa.

"Biasanya masih ada ketakutan anak untuk melaporkan. Ini yang nanti kita cari formulanya agar sekolah ramah anak dan siapapun yang bertengkar segera melapor,” ujarnya.

Terkait dugaan kelalaian sekolah, Nurkholes mengatakan berdasarkan informasi awal yang diterimanya, kejadian tersebut belum dapat langsung dinilai sebagai kelalaian.

“Ini berdasarkan informasi tadi bukan kelalaian. Pada saat kejadian, siswa sudah diinterogasi dan tidak ada rasa sakit yang dirasakan,” katanya.

Meski demikian, evaluasi terhadap sistem pengawasan tetap diperlukan, terutama setelah muncul informasi mengenai kondisi CCTV di sekolah.

Hingga kini, keluarga masih menunggu kejelasan mengenai rangkaian peristiwa yang dialami korban. Dugaan kekerasan di sekolah maupun kaitannya dengan kondisi kesehatan korban masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Keterangan keluarga, pihak sekolah, saksi, hasil pemeriksaan medis, serta proses penelusuran aparat menjadi bagian penting untuk mengungkap peristiwa tersebut secara utuh. (Ragil)

Editor : Redaksi