Dari Sampah Organik Jadi Ketahanan Pangan, Cak Yebe Bagikan 200 Tong Komposter di Dapil 5

Cak Yebe (kanan) berikan tong komposter pada warga
Cak Yebe (kanan) berikan tong komposter pada warga

SURABAYA - Ketua Komisi A DPRD Surabaya Yona Bagus Widyatmoko mendorong pengembangan ketahanan pangan berbasis lingkungan dengan mengadaptasi model Kampung Malaka Jaya di Jakarta Timur. 

‎Konsep pengelolaan sampah organik, budidaya pangan, dan pemberdayaan warga tersebut mulai diterapkan di sejumlah wilayah binaannya di Dapil 5 Surabaya melalui pembagian tong komposter.

Baca Juga: Budi Leksono Serap Aspirasi PKL Indrapura, Dorong Penataan Tanpa Penggusuran

‎“Untuk Perumahan Gunung Sari Indah,tepatnya di RW-9 Kelurahan Kedurus sebagai starter untuk mengawali program, saya distribusikan 20 unit tong komposter kapasitas 160 liter.” kata politisi Gerindra yang akrab disapa Cak Yebe, Selasa (6/10).

‎Cak Yebe mengatakan pengolahan limbah organik menjadi pintu masuk untuk membangun ekosistem ketahanan pangan dari tingkat rumah tangga. Program yang dimulai dari Perumahan Gunung Sari Indah (GSI) itu kemudian diperluas ke sejumlah RW di wilayah binaannya.

‎“Bukan hanya di GSI, tapi juga di RW 3 dan 4 Sumberan, Kelurahan Balas Klumprik, Kecamatan Wiyung,di RW 4 Kelurahan Jajar Tunggal, RW 1 Kelurahan Kedurus, RW 3 Kelurahan Jeruk, serta RW 2 dan 3 Kelurahan Warugunung,” ujar Cak Yebe. 

‎Dia menjelaskan Malaka Jaya menjadi rujukan karena pengelolaan limbah di kawasan tersebut terhubung dengan kegiatan ketahanan pangan dan pemberdayaan warga. Pengolahan sampah organik, tanaman produktif, budidaya ikan hingga aktivitas ekonomi dikembangkan dalam satu ekosistem lingkungan.

‎“Konsepnya saya terinspirasi dari Malaka Jaya. Di sana pengolahan limbah organik tidak berdiri sendiri, tetapi bisa dikembangkan menjadi bagian dari ketahanan pangan dan kegiatan produktif warga,” jelas dia. 

‎Model tersebut menunjukkan pemanfaatan ruang di kawasan permukiman dapat dikembangkan untuk mendukung kegiatan produktif warga. Kolam gizi, budidaya lele, tanaman produktif dan pengelolaan sampah menjadi bagian dari aktivitas lingkungan yang saling terhubung.

‎Dia mengatakan konsep Malaka Jaya tidak akan diterapkan secara mentah di Surabaya. Setiap kampung akan menyesuaikan program dengan kondisi lingkungan, ketersediaan lahan, serta kebutuhan warga setempat.

‎“Tidak harus persis sama dengan Malaka Jaya. Kita sesuaikan dengan kondisi kampung di Surabaya, tetapi prinsipnya sama, bagaimana limbah organik bisa dikelola dan hasilnya kembali memberikan manfaat untuk warga,” katanya.

Baca Juga: Achmad Nurdjayanto Serap Aspirasi Warga Tanah Kali Kedinding, Data Desil Jadi Sorotan ‎

‎Untuk tahap awal, dia menyediakan sedikitnya empat tong komposter bagi setiap RW yang berminat menjalankan program pengolahan limbah organik. Jumlah tersebut dapat disesuaikan dengan cakupan wilayah dan luas RT yang berada dalam satu RW.

‎“Tiap RW di wilayah binaan saya yang berminat untuk melakukan program pengolahan limbah organik saya distribusikan masing-masing minimal empat tong komposter, bergantung cakupan dan luas wilayah RT masing-masing dalam satu RW,” kata dia. 

‎Tong komposter yang diberikan memiliki kapasitas 160 liter. Kapasitas tersebut dipilih agar dapat digunakan secara komunal dan menampung limbah organik dalam jumlah lebih banyak.

‎“Saya memberikan bantuan langsung berupa unit tong komposter per RW sebanyak minimal empat pcs tong komposter kapasitas 160 liter atau kapasitas besar,” kata Mahasiswa Doktoral Ilmu Hukum Universitas Dr Soetomo (Unitomo) Surabaya ini.

‎Dalam rangkaian jaring aspirasi masyarakat, dia menyiapkan sekitar 200 unit tong komposter untuk RW-RW binaannya di Dapil 5 Surabaya. Bantuan tersebut diberikan secara swadaya sebagai langkah awal mendorong pengelolaan sampah organik berbasis lingkungan.

Baca Juga: ‎Terima Keluhan Warga soal Denda Listrik Rp1,2 Juta, Yona Bagus Langsung Temui PLN

‎“Kurang lebih dalam jaring aspirasi kali ini saya akan memberikan bantuan sebanyak 200 unit tong komposter yang dibagikan di RW-RW binaan saya di Dapil 5, secara swadaya dari saya pribadi,” tutur dia. 

‎Menurut dia, komposter bukan tujuan akhir dari program tersebut, melainkan sarana awal untuk membangun kegiatan produktif di kampung. Sampah organik yang dikelola dapat diarahkan untuk mendukung tanaman pangan, urban farming, maupun kegiatan lain sesuai potensi lingkungan.

‎“Sampah organik diolah, kemudian hasilnya bisa digunakan untuk tanaman, kebun pangan atau kegiatan produktif lain sehingga ketahanan pangan benar-benar tumbuh dari kampung,” tegas dia. 

‎Dia berharap pengalaman Malaka Jaya dapat menjadi referensi bagi kampung-kampung di Surabaya dalam mengembangkan ketahanan pangan dari skala lingkungan. Program tersebut juga diarahkan agar warga tidak hanya menerima bantuan, tetapi mampu mengembangkan kegiatan secara mandiri sesuai potensi wilayah.

‎“Harapannya nanti warga tidak hanya menerima bantuan, tetapi bisa mengembangkan sendiri. Kalau sudah berjalan, dari komposter bisa berkembang ke tanaman pangan, budidaya ikan atau kegiatan lain yang mendukung ketahanan pangan,” pungkasnya.

Editor : Redaksi