JAKARTA - District 13 membuka ceritanya dengan pagar tinggi, kawat berduri, dan wilayah yang sengaja dipisahkan dari kota. Bukan karena wabah, bukan pula bencana alam, melainkan karena negara memilih menyerah. Mereka mengurung masalah, lalu berpura-pura semuanya selesai.
Film karya Pierre Morel ini berlatar Paris masa depan, di mana kawasan kumuh bernama District 13 berubah menjadi zona tanpa hukum. Polisi jarang masuk, negara absen, dan kekuasaan dipegang oleh geng. Di tempat seperti itu, keadilan tidak datang lewat dokumen atau sidang—ia datang lewat tubuh yang berani bergerak.
Baca juga: The Other Lamb (2019): Kesalehan yang Menelan Tubuh Perempuan
Leïto (David Belle) adalah warga District 13 yang menolak tunduk. Ia tidak ingin menjadi pahlawan, hanya ingin keluarganya aman. Sementara Damien (Cyril Raffaelli) adalah polisi dari luar tembok—terlatih, disiplin, dan percaya pada misi. Pertemuan mereka melahirkan aliansi yang rapuh, tapi perlu.
Yang membuat District 13 berbeda dari film aksi kebanyakan adalah caranya memperlakukan tubuh. Parkour bukan hiasan, melainkan bahasa. Lompatan, lari, dan jatuh menjadi bentuk perlawanan. Tubuh digunakan untuk melampaui tembok secara harfiah dan simbolik. Ketika negara membangun batas, manusia mencari celah.
Baca juga: The Judge from Hell (2024): Ketika Keadilan Turun Bukan untuk Mengampuni
Film ini nyaris tanpa romantisasi. Kekerasan hadir cepat dan keras. Tidak ada pidato panjang tentang moral. Kamera bergerak agresif, mengikuti tubuh yang terus berpacu dengan waktu. Namun di balik adrenalin itu, terselip kritik sosial yang tajam: tentang segregasi, tentang kelas bawah yang dikorbankan demi stabilitas palsu.
Leïto bukan sosok suci. Ia marah, nekat, dan sering bertindak sendiri. Tapi kemarahannya lahir dari pengkhianatan sistem. Sementara Damien, meski datang sebagai aparat negara, perlahan menyadari bahwa hukum tidak selalu berpihak pada yang benar sering kali hanya pada yang berkuasa.
Baca juga: The Texas Chain Saw Massacre (1974): Teror yang Lahir dari Dunia yang Kehabisan Belas Kasih
District 13 mungkin singkat dan minim dialog, tapi pesannya jelas. Film ini tidak sedang meramal masa depan namun sedang memperingatkan. Tentang apa yang terjadi ketika negara memilih pagar daripada tanggung jawab, dan ketika tubuh manusia menjadi alat terakhir untuk bertahan.
Editor : Redaksi