PEMALANG - Matahari baru saja menampakkan sinarnya, namun ratusan warga di Kecamatan Pulosari dan Belik telah berjajar rapi. Mereka menggenggam jeriken dan ember kosong dengan raut wajah penuh harap. Di tengah kemarau panjang yang melanda, harapan mereka akhirnya datang. Suara deru mesin truk tangki dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pemalang memecah keheningan, membawa ribuan hingga ratusan ribu liter air bersih siap konsumsi.
Musim kemarau kali ini dirasakan sebagai salah satu yang terberat. Berdasarkan data Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi, krisis air bersih telah meluas hingga 30 desa di tujuh kecamatan, yakni Pulosari, Watukumpul, Randudongkal, Warungpring, Belik, Bantarbolang, dan Bodeh. Sebanyak 93.357 jiwa terdampak akibat mengeringnya sumur-sumur warga.
Baca juga: Tanggap Darurat Kekeringan, BPBD Pemalang Pastikan Kebutuhan Air Bersih Warga Tercukupi
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pemalang, Agus Ikmalludin, menuturkan bahwa tidak semua desa di tujuh kecamatan tersebut mengalami kekeringan.
"Tidak semua desa di tujuh kecamatan terdampak kekeringan. Ada 30 desa yang terdampak dengan total sekitar 93 ribu warga. BPBD berkolaborasi dengan PMI, Baznas, dan PDAM dalam menghadapi kekeringan dengan melakukan dropping air ke sejumlah titik distribusi, dengan kapasitas rata-rata sekitar 100.000 liter air setiap hari, belum ditambah para relawan yang ikut melakukan dropping air," ungkap Agus saat dikonfirmasi, Jumat (17/7).
Dirinya menambahkan, daerah yang paling parah terdampak kekeringan berada di Kecamatan Belik dan Kecamatan Pulosari.
"Untuk desa terdampak paling parah di Kecamatan Belik yakni Desa Belik dan Desa Gombong. Sementara di Kecamatan Pulosari, dampak kekeringan paling parah terjadi di Desa Clekatakan, Penakir, Gambaran, Nyalembeng, Batursari, Pulosari, Pagenteran, Cikendung, dan Desa Siremeng," tambah Agus.
Lebih lanjut, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pemalang memprediksi kondisi kekeringan pada musim kemarau tahun ini akan berlangsung hingga Oktober 2026.
Baca juga: Sepasang Suami Istri di Pemalang Jadi Korban Pohon Tumbang
"Kami secara resmi mulai menggelar Operasi Darurat Hidrometeorologi Kekeringan pada 1 Juli 2026. Sesuai prediksi BMKG, kondisi ini diperkirakan berlangsung hingga Oktober, dengan puncak kekeringan terjadi pada Agustus dan September," terang Agus.
Menyikapi situasi darurat ini, BPBD Kabupaten Pemalang mengambil langkah cepat dan taktis. Setiap harinya, ribuan hingga hampir 100.000 liter air bersih didistribusikan ke daerah-daerah terdampak.
Menggunakan armada truk tangki, petugas BPBD bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) dan Perumda Air Minum (PDAM) menyusuri jalan-jalan terjal di wilayah selatan Pemalang demi memastikan pasokan air sampai ke tangan warga.
"Setiap hari kami mengerahkan armada truk tangki dan berkoordinasi dengan pemerintah desa agar distribusi tepat sasaran. Kami ingin memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi di tengah puncak kemarau ini," tutupnya.
Baca juga: BPBD Pemalang Ajak Peserta Jumat Bersih Rawat Jalan Protokol Agar Nyaman Dilewati
Distribusi air ini tidak hanya menyasar permukiman padat penduduk, tetapi juga menjangkau fasilitas umum seperti sekolah dan pondok pesantren. Warga setempat menyambut bantuan tersebut dengan antusias dan rasa syukur yang mendalam.
Bagi mereka, tetesan air bersih dari pemerintah daerah menjadi penyambung harapan untuk bertahan menghadapi dampak kekeringan tahunan.
Langkah kolaboratif ini rencananya akan terus diintensifkan hingga puncak musim kemarau berakhir, mengingat prakiraan cuaca menunjukkan kondisi kering masih akan berlangsung. Sinergi antara BPBD, relawan kemanusiaan, dan berbagai elemen masyarakat menjadi bukti semangat gotong royong warga Pemalang dalam menghadapi bencana.
Editor : Redaksi