Power-With, Bukan Power-Over
Pemikiran Mary Parker Follett menghadirkan paradigma visioner yang melompati era kehidupannya dan menjadi penuntun relevan bagi dinamika kepemimpinan modern.
Baca juga: BKKBN Jatim dan BBPOM Perkuat Sinergi Komunikasi Publik untuk Edukasi Masyarakat
Jauh sebelum teori manajemen kontemporer mengagungkan kolaborasi, Follett telah merumuskan bahwa kekuatan sejati suatu organisasi tidak terletak pada kendali hierarkis, melainkan pada kualitas interaksi antarmanusia di dalamnya.
Dasar pemikirannya menawarkan pijakan kokoh untuk membangun ekosistem kerja yang adaptif, manusiawi, dan berorientasi pada kemajuan bersama.
Di tengah maraknya era efisiensi mekanis yang dingin, Follett menghadirkan perspektif yang ‘hangat’. Ia memandang organisasi bukan sebagai mesin kaku yang digerakkan oleh perintah (dari atas ke bawah).
Namun, organisasi sebagai organisme hidup tempat interaksi dinamis, dorongan kemanusiaan, dan gagasan-gagasan baru bertumbuh secara organik.
Dalam perspektif Follett, konflik bukanlah ancaman yang mesti ditakuti atau direpresi, melainkan percikan energi yang menyimpan potensi kreatif luar biasa.
Ketika perbedaan pendapat muncul, reaksi spontan organisasi biasanya adalah mendominasi atau berkompromi.
Namun, Follett menawarkan jalan ketiga yang jauh lebih elegan, yaitu integrasi. Dominasi menciptakan pemenang dan pecundang, sementara kompromi memaksa kedua belah pihak mengorbankan sebagian keinginan mereka.
Integrasi, di sisi lain, membongkar akar masalah untuk melahirkan solusi baru yang memenuhi kebutuhan semua pihak tanpa ada yang merasa dikalahkan. Konflik konstruktif ini menjadi mesin pendorong inovasi yang mengubah gesekan menjadi harmoni.
Pemahaman tentang konflik ini berkelindan erat dengan redefinisi Follett mengenai kekuasaan. Ia secara tajam membedakan antara kekuasaan atas orang lain (power-over) dan kekuasaan bersama (power-with).
Kekuasaan yang berbasis pemaksaan dan hierarki kaku senantiasa memicu resistensi serta mematikan potensi individu.
Sebaliknya, kekuasaan bersama melipatgandakan kekuatan organisasi melalui kerja sama kolektif.
Kekuasaan bukanlah sumber daya terbatas yang hendak diperebutkan, melainkan energi kolektif yang membesar ketika dibagikan.
Kepemimpinan sejati tidak menindas bawahannya, melainkan menumbuhkan kapasitas kolektif agar setiap individu merasa memiliki andil.
Melalui pembagian peran yang memberdayakan ini, hierarki kaku melebur menjadi jejaring kerja sama yang mengedepankan tanggung jawab bersama.
Follett juga memberikan penghormatan tinggi pada pengetahuan bersama (collective knowledge) dan dinamika situasi.
Menurutnya, kewenangan mutlak tidak serta-merta melekat pada jabatan formal, melainkan mengalir kepada siapa saja yang memiliki pemahaman paling mendalam terhadap situasi yang sedang dihadapi (law of the situation).
Baca juga: Kanwil Ditjenpas DK Jakarta Perkuat Sinergi Pengawasan Pelayanan Publik
Keputusan terbaik lahir ketika para pemimpin dan anggota tim bersedia tunduk pada fakta serta dinamika lapangan, bukan pada ego hierarkis.
Dengan menempatkan pengetahuan sebagai panglima, organisasi bertransformasi menjadi ruang belajar yang adaptif dan inklusif.
Daya Cipta Kolaborasi
Seluruh pandangan Mary Parker Follett bermuara pada kesadaran mendasar bahwa pencapaian tertinggi organisasi selalu berakar pada seni memelihara relasi antarmanusia secara holistik.
Ketika organisasi memperlakukan setiap anggotanya sebagai individu yang bernilai dan saling terkoneksi, keberhasilan operasional akan mengikuti secara alami sebagai hasil dari sinergi yang kondusif.
Gagasan ini secara mendasar mendobrak paradigma manajemen klasik yang cenderung memandang manusia sekadar sebagai komponen mekanis dalam mesin produksi.
Bagi Follett, organisasi bukanlah struktur kaku yang digerakkan oleh instruksi sepihak, melainkan sebuah organisme sosial yang hidup dan berkembang melalui interaksi timbal balik.
Dalam dinamika tersebut, terjadi pergeseran paradigma dari konsep kekuasaan atas pihak lain menuju kekuasaan yang dibangun bersama.
Kepemimpinan yang efektif tidak dipancarkan melalui dominasi hirarkis atau pemaksaan kehendak, melainkan melalui kemampuan memfasilitasi kolaborasi dan mengintegrasikan berbagai keahlian.
Baca juga: Muhaimin Sebut Terisinya Ketua DPRD Surabaya Jadi Momentum Perkuat Sinergi
Otoritas tidak lagi dipandang sebagai hak istimewa yang melekat mutlak pada jabatan, melainkan lahir dari kesadaran bersama akan tuntutan situasi di lapangan.
Prinsip ini menciptakan iklim kerja yang responsif, di mana setiap individu merasa memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan kontribusi terbaik tanpa dibayangi ketakutan.
Sekali lagi, pendekatan humanis Follett juga terlihat jelas dalam caranya menyikapi konflik dalam organisasi.
Bukannya menganggap perbedaan pendapat sebagai ancaman yang harus ditekan atau diselesaikan melalui kompromi yang dangkal, ia menempatkan konflik sebagai sumber energi kreatif. Melalui proses integrasi, perbedaan pandangan digali untuk menemukan solusi baru yang mengakomodasi kebutuhan semua pihak tanpa ada yang dikorbankan.
Komunikasi yang terbuka dan saling menghargai memungkinkan gesekan pemikiran tersebut berubah menjadi bahan bakar inovasi.
Dengan demikian, pemikiran Follett menegaskan bahwa efisiensi operasional dan penghargaan terhadap nilai kemanusiaan bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan saling melengkapi.
Keberlanjutan organisasi jangka panjang sangat bergantung pada sejauh mana pimpinan mampu menciptakan ruang bagi setiap individu untuk bertumbuh secara kolektif.
Ketika keterhubungan antarmanusia dijadikan landasan utama dalam berorganisasi, efektivitas bukan lagi target yang dikejar secara paksa, melainkan buah alami dari ekosistem kerja yang harmonis dan berkeadilan.
*)Oleh: Mochamad Chazienul Ulum, Dosen Administrasi Publik FIA UB
Editor : Redaksi