Gravitasi Hening

Reporter : Ika chairani

Keheningan bukanlah ketiadaan suara, melainkan hadirnya kedamaian yang tak tergoyahkan. — Mahatma Gandhi

Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang mengukur eksistensi dari seberapa cepat kita merespons, kita seolah terjebak dalam arus digital yang tanpa henti. DataReportal 2024 mengungkapkan bahwa rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktu sekitar 7 jam 38 menit setiap harinya untuk berselancar di internet, sebuah durasi yang memaksa otak kita untuk memproses stimulasi tanpa henti.

Baca juga: Membaca Sebagai Kebutuhan Eksistensial

Padahal ‘keriuhan’ tersebut justru dapat mengikis kemampuan kognitif kita dalam melakukan refleksi mendalam. Ketika kita terus-menerus mengejar kecepatan respons, sejatinya kita sedang kehilangan kedaulatan atas waktu dan pikiran kita sendiri.

Jika ditelisik lebih dalam melalui lensa filsafat yang didukung oleh realitas data ini, kita akan menemukan sebuah ‘kebenaran’ bahwa hening bukanlah ketiadaan suara, melainkan bentuk kehadiran diri yang utuh.

Mengambil jeda bukanlah sebuah ketertinggalan, melainkan upaya ‘evakuasi’ kesehatan mental. Keheningan memberikan ruang bagi otak untuk menurunkan kadar kortisol yang meningkat akibat paparan informasi berlebih, memungkinkan kita untuk mendengar kembali 'bisikan autentik' yang selama ini tertimbun kebisingan.

Kedaulatan diri tidak ditemukan dalam seberapa banyak kita memberikan komentar, melainkan dalam keberanian kita untuk tetap tenang saat dunia mendesak kita untuk terus bicara.

Bayangkan sebuah gasing yang berputar dengan kecepatan sangat tinggi; bagian yang paling stabil dari gasing tersebut bukanlah pinggirannya yang bergerak liar, melainkan titik pusatnya yang tampak diam tak bergerak.

Begitu pun dengan arsitektur jiwa manusia. Kekuatan batin tidak ditemukan dalam gerakan yang tak karuan atau respons yang menggebu terhadap setiap notifikasi ponsel, melainkan dalam kemampuan untuk menjadi "titik tetap" di tengah dinamika dunia.

Psikolog Viktor Frankl pernah menyatakan bahwa "di antara stimulus dan respons, terdapat sebuah ruang; di ruang itulah terletak kebebasan dan kekuatan kita untuk memilih respons kita."

Saat lingkungan sekitar menuntut reaksi emosional yang intens, seperti godaan untuk membalas sindiran di media sosial atau bereaksi berlebihan, ketidakhadiran reaksi justru menciptakan sebuah gravitasi psikologis yang kuat.

Hal ini mungkin membuat orang lain gelisah, namun tujuan kita bukanlah memanipulasi mereka, melainkan memastikan bahwa kedamaian batin tidak dapat dibeli dengan harga murah oleh gangguan eksternal.

Refleks untuk selalu terlibat adalah tanda bahwa kita sebenarnya sedang dikendalikan oleh keadaan. Kebijaksanaan sejati justru muncul saat mampu ‘duduk diam di tengah badai’, mengamati dorongan untuk bereaksi, namun memilih untuk tetap tidak bergerak.

Di titik itulah kita berhenti menjadi pion yang digerakkan oleh provokasi dan mulai menjadi pemain yang menentukan langkahnya sendiri.

Hening memiliki sifat yang menyerupai cermin yang jernih; ia memantulkan kembali siapa diri kita yang sebenarnya tanpa bumbu cerita atau distorsi kata-kata.

Saat kita terus berbicara dan menjelaskan diri, mungkin kita sedang membangun narasi untuk menutupi kerapuhan atau ketakutan kita sendiri.

Namun, dalam situasi-kondisi diam yang bermakna, semua topeng tersebut perlahan jatuh. Fenomena ini sering kita hindari dengan cara menenggelamkan diri dalam konten-konten hiburan agar tidak perlu berhadapan dengan kekalutan pikiran sendiri.

Baca juga: Zulhas Singgung Serangan Opini Politik, PAN Tegaskan Loyal Kawal Prabowo

Marcus Aurelius dalam Meditations telah mengingatkan kita untuk mencari "Inner Citadel" atau benteng batin.

Dalam diam, kita mulai melihat dengan jelas bagian mana dari diri kita yang haus akan atensi dan bagian mana yang benar-benar telah merdeka.

Keheningan tidak membutuhkan pembelaan diri; ia membiarkan realitas berbicara apa adanya, menyingkapkan bahwa banyak hal yang kita kejar, termasuk validasi-pengakuan sosial, ternyata hanyalah bayang-bayang.

Keheningan yang transformatif bukanlah sekadar melakukan Silent Treatment demi memenangkan argumen. Itu hanyalah ego yang dibungkus dengan bungkam.

Hening bukan berarti bungkam. Keheningan yang sejati adalah ketika ia telah melebur menjadi jati diri. 

Kita terjebak dalam upaya memenuhi standar (kebahagiaan) yang diciptakan oleh orang asing yang bahkan tidak mengenal kita. Di sinilah Carl Jung menawarkan perspektif yang mencerahkan mengenai momen "terbangun".

Baginya, kesadaran sejati tidak ditemukan dalam keriuhan massa, melainkan dalam "bisikan autentik" yang hanya dapat terdengar ketika frekuensi dunia luar telah diredam.

Menjadi hening berarti memberikan izin kepada diri sendiri untuk berhenti menjadi penonton bagi hidup orang lain dan mulai menjadi aktor utama dalam narasi kita sendiri.

Keheningan yang intens memiliki kekuatan untuk melarutkan kecemasan akan masa depan yang menghantui pikiran.

Kecemasan tersebut biasanya lahir dari pikiran yang melompat melampaui masa kini. Saat kita memilih untuk diam dan hadir sepenuhnya di momen saat ini, beban masa depan tersebut perlahan meluruh.

Keheningan tidak merampas produktivitas kita; ia justru memberikan kembali keutuhan diri yang selama ini terkikis oleh kebisingan yang tak perlu. 

Pada akhirnya, memilih untuk diam di tengah dunia yang terobsesi dengan opini dan reaksi adalah sebuah pernyataan eksistensial. Ini adalah bentuk perlawanan yang paling elegan karena tidak membutuhkan teriakan untuk didengar.

Kita berhenti menjadi pion yang mudah digerakkan oleh provokasi dan mulai menjadi penguasa atas narasi batin kita sendiri.

Diam yang bermakna memberikan kita kekuatan untuk melihat melampaui kabut kata-kata, menyingkapkan bahwa kebenaran sejati kerap hanya dapat ditemukan ketika kita memiliki keberanian untuk mematikan volume dunia dan mulai mendengarkan diri sendiri secara utuh.

*)Oleh : Mochamad Chazienul Ulum

Editor : Redaksi

Politik
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru