Meretas Kebisingan

Reporter : Ika chairani

The Burnout Society

Menurut DataReportal 2024, orang Indonesia rata-rata menghabiskan waktu 7 jam 38 menit setiap hari untuk berselancar di internet, yang memaksa otak kita untuk memproses informasi tanpa henti. Meskipun demikian, "keriuhan" ini sebenarnya berpotensi merusak kemampuan kognitif kita untuk melakukan refleksi mendalam. Kita kehilangan kedaulatan atas waktu dan pikiran kita sendiri ketika kita terus mengejar kecepatan respons.

Baca juga: Otak, Algoritma, dan Adiksi Digital: Mengapa Kita Sulit Melepaskan Media Sosial?

Ada satu tindakan sederhana yang kini terasa seperti pembangkangan di tengah kepungan arus informasi: memilih untuk diam dan mengambil jarak dari kebisingan. Di era ketika kecepatan dan setiap detik dituntut untuk menghasilkan sesuatu, berhenti sekejap tampak menjadi kekalahan yang memalukan. Namun, justru keheningan menjadi satu-satunya jangkar untuk menyelamatkan kewarasan kita dari kepunahan makna.

Byung-Chul Han mengingatkan bahwa krisis manusia modern bukan lagi penindasan dari luar, melainkan eksploitasi diri yang berkedok kebebasan. Kita hidup dalam masyarakat berkinerja yang ‘menyembah’ produktivitas, tetapi lupa bahwa kreativitas dan kedalaman jiwa hanya lahir dari kemampuan untuk sejenak tidak melakukan apa-apa. Ketika hidup diukur semata-mata dari kecepatan merespons dan jumlah pencapaian, maka keheningan dianggap sebagai ancaman.

Padahal keheningan bukanlah ruang hampa yang mati. Ia mungkin menggelisahkan, meruntuhkan kepalsuan, dan menelanjangi ilusi penting yang selama ini dipelihara. Martin Heidegger melalui konsep Gelassenheit atau ‘sikap membiarkan sesuatu menjadi dirinya sendiri’, mengajarkan bahwa berpikir sejati bukanlah kalkulasi teknis untuk menguasai dunia, melainkan kesiapan untuk merenungpikirkan. Keheningan adalah momen di mana kita berhenti memaksa dunia mengikuti kehendak kita, dan mulai menyediakan diri untuk menyambut realitas yang dihadapi.

Seseorang tidak memilih diam untuk mengisolasi diri atau melarikan diri dari kenyataan, melainkan untuk mengumpulkan kembali serpihan jiwa yang terserak oleh hiruk-piruk tuntutan sosial. Keheningan menuntut keberanian yang besar; keberanian untuk meredam ego dan menerima ketidakpastian. Namun, ketidaknyamanan dalam keheningan bukanlah sebuah kerugian, melainkan sebuah proses pemulihan batin (inner healing).

Manusia modern menderita karena hilangnya ‘waktu naratif’, yaitu waktu yang memiliki ritme, jeda, dan kedalaman. Kita terjebak dalam ‘waktu atomis’, di mana setiap momen terputus-putus dan melompat dari satu stimulasi digital ke stimulasi berikutnya. Hidup tanpa jeda hanya melahirkan manusia yang lelah; yang bergerak sangat cepat tetapi sebenarnya jalan di tempat dalam kehampaan.

 

Baca juga: Menakar Urgensi Kepemimpinan Etis

Filosofi Keheningan

Martin Heidegger, seorang filsuf Jerman, menegaskan bahwa manusia sejati adalah mereka yang tahu cara bermukim secara puitis di bumi. Bermukim berarti merawat dan menjaga, bukan sekadar mengeksploitasi ruang dan waktu. Dalam keheningan yang reflektif, kita tidak sedang bersikap pasif, melainkan sedang aktif mendengarkan gaung dari nurani, sejarah, dan eksistensi kita sendiri. Melalui kontemplasi ini, kita menyadari keterbatasan perspektif sendiri dan mulai melihat keterkaitan yang erat antara diri kita dengan sesama.

Memilih untuk hening adalah bentuk tertinggi dari integritas eksistensial dan kerendahan hati emosional. Orang yang berani diam barang sesaat tahu bahwa ia tidak memiliki semua jawaban atas kompleksitas dunia. Namun dari kekosongan yang disengaja itu, ia menyediakan ruang bagi kebijaksanaan yang sejati untuk bertunas. Keheningan tidak datang menawarkan kepastian instan, melainkan sebagai proses yang mematangkan jiwa, menjembatani apa yang dirasakan di permukaan dengan apa yang sejati di kedalaman.

Masyarakat modern kerap kali mengurung diri dalam penjara konektivitas tanpa batas, yang ironisnya justru menghancurkan keintiman sejati. Siapa pun yang berani melompati ‘pagar kebisingan’ itu akan menemukan bahwa di dalam keheningan, ada ruang lapang di mana relasi dengan diri sendiri dan orang lain dapat dijalin kembali dengan lebih tulus.

Baca juga: Asap Jalanan dan Ambisi Hijau

Di tengah dunia yang bising, merawat keheningan terasa seperti perlawanan sunyi. Namun, di dalam sunyi itulah kebenaran tentang kita terdengar paling nyaring. Bukan karena ia berteriak di podium, melainkan karena ia berbicara langsung pada kesadaran. Kebijaksanaan tidak dapat dihitung dengan algoritma kecepatan, melainkan hendaknya dihayati melalui kehadiran yang utuh. Orang yang melibatkan dirinya dengan sepenuh hati dalam jeda ini mencoba untuk memitigasi agar tidak kehilangan arah.

Kita tidak dirancang untuk menjadi mesin yang terus berputar, melainkan makhluk yang membutuhkan waktu untuk mencerna makna hidup. Ketika seseorang berani merangkul keheningan, ia sedang mengembalikan martabat kemanusiaannya yang autentik. Seseorang yang menolak keheningan mungkin merasa hidupnya penuh dan dinamis, namun ia mungkin hidup dalam ‘kedangkalan’ yang melelahkan. Sebaliknya, bagi yang berani menyediakan ruang bagi kesunyian, mereka paham bahwa kualitas hidup tidak ditentukan oleh seberapa keras upayanya bersuara, melainkan oleh seberapa mampu menyerap esensi dari kehidupan itu sendiri. Mereka tidak sedang kehilangan dunia, melainkan sedang menemukan jalan pulang. 

*)Oleh: Mochamad Chazienul Ulum, Dosen Administrasi Publik Universitas Brawijaya

Editor : Redaksi

Politik
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru