TP2GP Ungkap Peran KH Abbas Menentukan Momentum Serangan 10 November 1945

Reporter : M. Farhan
Seminar nasional

MAJALENGKA – Ketua Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) Prof Dr Usep Abdul Matin mengungkap jejak KH Abbas Abdul Jamil dalam rangkaian peristiwa yang mengantarkan Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945.

Hal itu disampaikan Usep dalam Seminar Nasional Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional KH Abbas Abdul Jamil di Aula MA Unggulan Amanatul Ummah 02 Leuwimunding, Minggu (9/8).

Baca juga: Bupati Majalengka Dukung KH Abbas Abdul Jamil Jadi Pahlawan Nasional

Usep mengatakan penelitian terhadap KH Abbas telah dilakukan sejak 2024. Ia kembali dipercaya menjadi Ketua TP2GP untuk melakukan penelitian pada 2026.

“Ini yang ketiga kalinya saya sebagai ketua, dari 2024, 2025, dan 2026,” kata Usep.

Menurut Usep, KH Abbas memiliki peran penting dalam menentukan momentum serangan pasukan perjuangan pada 10 November 1945.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Indonesia kembali menghadapi ancaman pasukan Sekutu dan Belanda. Dalam situasi tersebut, jaringan ulama dan santri ikut mengambil bagian dalam mempertahankan kemerdekaan.

“Almarhum KH Abbas memiliki peran dalam menentukan momentum serangan pada 10 November 1945,” ucapnya.

Usep menjelaskan, pada 6 November 1945, KH Abbas menggelar musyawarah bersama keluarga, para kiai dan santrinya untuk menentukan pemimpin ulama dan santri yang akan terlibat dalam perjuangan di Surabaya.

KH Abbas kemudian berangkat bersama putranya, KH Abdullah Abbas, dan para santri menuju Tebuireng, Jombang.

Dalam rangkaian peristiwa tersebut, KH Abbas disebut memberikan arahan agar serangan dilakukan pada pagi hari 10 November 1945.

“KH Abbas mengatakan, besok subuh harus kita serang. Artinya besok subuh itu 10 November 1945,” kata Usep.

Menurut dia, keputusan tersebut memiliki arti strategis karena pasukan perjuangan bergerak menuju pusat Kota Surabaya, sementara kekuatan lainnya ditempatkan di sejumlah wilayah pinggiran.

Baca juga: APBD Kota Surabaya 2024, Antara Semangat Pahlawan dan SILPA Rp 220 Miliar

Usep menilai kemampuan membaca situasi dan strategi lawan menjadi salah satu aspek penting dalam melihat kontribusi KH Abbas dalam pertempuran tersebut.

Selain jejak perjuangan pada 1945, TP2GP juga menemukan sejumlah sumber primer mengenai aktivitas KH Abbas jauh sebelum Indonesia merdeka.

“Pengusulan KH Abbas Abdul Jamil ini paling lengkap sumber primernya. Dari 95, 74-nya sumber primer dan 23-nya sumber sekunder,” ujar Usep.

Salah satu sumber yang dikaji berasal dari dokumen dan laporan pemerintahan kolonial Belanda. Sejumlah dokumen tersebut bahkan menggambarkan KH Abbas sebagai tokoh yang dianggap berbahaya bagi kepentingan pemerintah Hindia Belanda.

Aktivitas KH Abbas sebagai pemimpin Tarekat Tijaniyah turut menjadi bagian dari penelusuran sejarah tersebut. Dokumen kolonial menunjukkan jaringan keagamaan dan pesantren yang dipimpinnya dipandang sebagai kekuatan yang berpotensi melahirkan perlawanan.

“Kalau musuh yang mengatakan, kan kuat. Berbeda kalau yang di dalam,” katanya.

Baca juga: Machmud Demokrat Ajak Arek-arek Suroboyo Mewarisi Semangat Para Pahlawan

Jejak perjuangan KH Abbas juga berkaitan dengan jaringan pesantren, ulama dan Nahdlatul Ulama. Ia disebut memanfaatkan jaringan tersebut untuk membangun kader serta mempertahankan semangat perjuangan.

Pada masa pendudukan Jepang, KH Abbas tercatat berada dalam sejumlah lembaga bentukan pemerintahan pendudukan. Namun, menurut Usep, keterlibatan tersebut perlu dibaca dalam konteks strategi perjuangan pada masa itu.

KH Abbas juga disebut terlibat dalam jaringan perjuangan bersenjata, termasuk Hizbullah dan Sabilillah, serta memiliki keterlibatan dalam Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).

“Jadi sampai akhir hayatnya terus menggunakan jaringan NU, jaringan pesantren, kesejawatan dengan teman-temannya, kiai dan santri untuk meraih kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan,” kata Usep.

KH Abbas Abdul Jamil lahir pada 1883 dan wafat pada 1947. Ia dikenal sebagai salah satu ulama penting dari lingkungan Buntet Pesantren, Cirebon.

Selain perjuangan mempertahankan kemerdekaan, jejaknya juga berkaitan dengan pendidikan pesantren, kaderisasi santri serta pembentukan jaringan perjuangan. Salah satu bagian yang turut dikaji adalah Laskar Asybal yang melibatkan anak-anak dan remaja dalam jaringan perjuangan pada masa revolusi.

Editor : Redaksi

Politik
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru