SURABAYA – Kehadiran kecerdasan buatan (AI) dalam komunikasi publik tidak bisa dihindari. Dari merancang narasi kebijakan hingga menyusun strategi kampanye perubahan perilaku, AI kini menjadi bagian dari keseharian humas. Namun, suara manusia tetap menjadi elemen vital, khususnya dalam konteks keluarga dan nilai-nilai kemanusiaan.
Pranata Humas Ahli Pertama dari Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Jawa Timur, Aulia Dikmah Kiswahono, menegaskan, komunikasi yang disampaikan AI tanpa sentuhan manusia berisiko kehilangan empati dan makna.
Baca juga: BKKBN Jatim Dorong Ayah Ambil Rapor Anak Lewat Gerakan GEMAR
"AI mungkin bisa bicara, tapi hanya manusia yang bisa benar-benar menyentuh hati," ujarnya saat bedah buku Antologi Transformasi Kehumasan di Era AI dan Literasi Kesehatan Kehumasan.
Aulia menekankan pentingnya Human in the Loop (HITL), atau pengawasan manusia dalam setiap proses kerja AI, terutama untuk pesan seputar keluarga berencana, kesehatan ibu-anak, dan pendidikan seksual.
Pesan otomatis yang hanya berbasis algoritma, kata Aulia, sering kali gagal memahami tekanan sosial, tantangan ekonomi, dan nilai budaya yang menjadi konteks utama keluarga.
Baca juga: Literasi Etis dan Budaya Jadi Kunci Pemanfaatan AI dalam Komunikasi Publik
Dalam kampanye digital tentang ASI eksklusif misalnya, AI mampu menyusun pesan secara medis tepat, tetapi tanpa intervensi manusia, pesan itu bisa tidak relevan bahkan menyakitkan bagi ibu muda.
Ketua Umum Ikatan Pranata Humas Indonesia (Iprahumas), Fachrudin Ali, menegaskan, peran humas tidak hanya mengadopsi teknologi, tapi juga menjaga makna narasi di ruang publik.
"Humas berfungsi sebagai penjaga makna di tengah kebisingan data dan informasi artificial," katanya.
Baca juga: Kunjungan Maraton Menteri Wihaji Fokuskan Pengentasan Stunting
Menurut Aulia, teknologi tanpa kontrol manusia berpotensi menggeser tujuan dari membantu menjadi membentuk perilaku.
"Dalam komunikasi keluarga, ini berarti hilangnya esensi kasih sayang dan empati," ujarnya.
Editor : Redaksi