SURABAYA – Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk komunikasi publik, termasuk kampanye kesehatan dan parenting, menuntut pendekatan etis dan berpusat pada manusia. Data UNESCO dan inisiatif G7 menekankan bahwa tata kelola AI harus memperhatikan hak asasi, privasi, dan keberagaman budaya.
Pranata Humas Ahli Pertama Kemendukbangga/BKKBN Jawa Timur, Aulia Dikmah Kiswahono, menekankan literasi kesehatan dan konteks budaya sebagai kunci keberhasilan komunikasi berbasis AI.
Baca juga: BKKBN Jatim Dorong Ayah Ambil Rapor Anak Lewat Gerakan GEMAR
Dalam bukunya yang masuk Antologi Transformasi Kehumasan di Era AI dan Literasi Kesehatan Kehumasan, Aulia menulis, "Suara tanpa nurani bukanlah solusi. AI bisa menyampaikan pesan, tapi pemahaman nilai budaya dan sensitivitas emosional hanya manusia yang mampu."
Menurut Aulia, komunikasi keluarga tidak sekadar transfer informasi. Pesan tentang parenting, kesehatan reproduksi, atau 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) harus tetap mempertimbangkan nilai tradisional, emosi, dan kepercayaan yang telah mengakar turun-temurun.
Data Reportal 2024 menunjukkan 49,9 persen populasi Indonesia atau 139 juta orang aktif di media sosial, dengan kelompok remaja mencapai 93,52 persen.
Baca juga: Sentuhan Kemanusiaan Tetap Penting di Era AI dalam Komunikasi Keluarga
Platform seperti WhatsApp kerap digunakan sebagai saluran komunikasi keluarga.
Fenomena ini membuka peluang pemanfaatan chatbot dan AI, tetapi juga menimbulkan pertanyaan mendasar: mampu kah AI sepenuhnya memahami konteks emosional dan nilai budaya?
Baca juga: Kunjungan Maraton Menteri Wihaji Fokuskan Pengentasan Stunting
Ketua Umum Iprahumas, Fachrudin Ali, menegaskan, humas tidak hanya dituntut mengadopsi teknologi, tapi juga menjaga agar informasi tetap bermakna. "Humas berperan penting untuk meminimalisir distorsi dan merawat narasi di ruang publik," ujarnya.
Aulia menambahkan, literasi etis dalam penggunaan AI menjadi fondasi agar komunikasi tetap manusiawi. “AI harus dikawal agar melayani manusia, bukan menggantikan nurani manusia,” tuturnya.
Editor : Redaksi