Forbidden City Cop (1996): Ketika Keseriusan Kekaisaran Kalah oleh Kegilaan yang Cerdas

Reporter : Nita Rosmala
Tangkapan layar Forbidden City Cop

JAKARTA - Di tangan Stephen Chow, istana kekaisaran bukan ruang khidmat penuh protokol. Ia justru berubah menjadi arena kekacauan yang tertata rapi. 

Forbidden City Cop memulai kisahnya dari tempat yang paling sakral Kota Terlarang lalu merobohkannya dengan humor tanpa ampun.

Baca juga: The Shadow’s Edge: Ketika Penglihatan Menjadi Senjata, dan Bayangan Menjadi Kunci Kebenaran

Chow berperan sebagai Ling Ling Fat, anggota pasukan rahasia penjaga kaisar yang tampak ceroboh, tidak disiplin, dan sering dianggap beban. 

Namun di balik kekonyolan itu, ia menyimpan kecerdasan yang tak dibaca sistem. Ia bukan pendekar kuat, bukan pula ahli strategi klasik. Senjatanya justru logika nyeleneh dan kreativitas yang salah tempat.

Film ini bergerak cepat, penuh slapstick, parodi wuxia, dan dialog absurd. Tapi kekuatannya bukan sekadar tawa. 

Chow menyindir budaya feodalisme, militerisme, dan cara negara sering salah menilai potensi seseorang. Yang rajin dan patuh dielu-elukan, sementara yang berpikir berbeda dicurigai.

Baca juga: The Shadow’s Edge: Ketika Penglihatan Menjadi Senjata, dan Bayangan Menjadi Kunci Kebenaran

Relasi Ling Ling Fat dengan istrinya juga menarik. Ia bukan hanya pemanis cerita, melainkan penyeimbang, cerdas, berani, dan sering kali lebih rasional dari para pejabat istana. 

Dalam dunia yang dipenuhi laki-laki sok heroik, justru suara perempuan yang paling jujur membaca keadaan.

Ketika semua berlomba menjadi pendekar, yang selamat justru orang yang berpikir di luar pedang.

Baca juga: The Shadow’s Edge: Ketika Penglihatan Menjadi Senjata, dan Bayangan Menjadi Kunci Kebenaran

Secara visual, Forbidden City Cop tidak mewah, tapi efektif. Aksi dibuat sederhana, fokus pada timing komedi dan ekspresi. 

Tidak ada upaya mengagungkan kekerasan yang ditertawakan justru kesombongan.

Film ini bukan tentang menyelamatkan kaisar semata, tapi tentang merayakan kecerdasan yang diremehkan. Stephen Chow sekali lagi mengingatkan sistem sering gagal bukan karena kekurangan orang pintar, tapi karena terlalu sibuk menyukai yang terlihat serius.

Editor : Redaksi

Politik
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru