SURABAYA - Merebaknya virus Nipah yang belakangan ini ramai diperbincangkan di media sosial (medsos) dan membuat sejumlah negara tetangga Indonesia, seperti Malaysia dan Bangkok, mulai meningkatkan kewaspadaan.
Menindaklanjuti hal tersebut, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor HK.02.02/C/445/2026 tentang Kewaspadaan Terhadap Virus Nipah pada 30 Januari 2026.
Baca Juga: Parkir Truk di Jalan Semut Baru Dikeluhkan Warga, DPRD Minta Dishub Bertindak
Menanggapi situasi tersebut, Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, Dr. Zuhrotul Mar’ah, memastikan bahwa hingga saat ini belum ditemukan kasus virus Nipah di Surabaya maupun di Indonesia secara umum.
"Virus Nipah sampai saat ini per tanggal 3 Februari belum ada kasus ya di Surabaya, di Indonesia pun masih belum masuk," ujarnya, Rabu (4/2).
Meski demikian, Zuhrotul menegaskan bahwa masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan meskipun belum ada kasus yang terdeteksi.
"Jadi meskipun belum terdeteksi kita tetap perlu waspada. Jadi kalau mengalami gejala-gejala seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan. terus kemudian ada masalah pernapasan dan ada kayak radang di paru-parunya. Nah, kalau ada gejala-gejala seperti itu ya harus ke pusat pelayanan kesehatan gitu ya," jelasnya politisi asal Partai Amanat Nasional (PAN).
Baca Juga: Waspadai Virus Nipah, Gerindra Surabaya Gelar Cek Kesehatan Gratis Sambut HUT ke-18
Saat ditanya mengenai tingkat bahaya virus Nipah, Zuhrotul menyebut bahwa virus tersebut berpotensi menyebabkan kematian apabila sudah memasuki kondisi berat.
"Ya kalau dalam taraf berat kayak sampai ke ensefalitis ya bisa kematian ya cuma kan semuanya itu tergantung pada daya tahan tubuh kita ya, tapi kalau daya tahan tubuh kita kurang bagus, ya bisa menyebabkan keparahan," ungkapnya.
Ia juga menjelaskan, bahwa penularan virus Nipah umumnya terjadi dari hewan ke manusia, terutama melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi.
Baca Juga: Waspadai Virus Nipah, Gerindra Surabaya Gelar Cek Kesehatan Gratis Sambut HUT ke-18
"Jadi ada kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, semacam kelelawar buah, manakala buah itu digigit sama kelelawar itu terus kemudian buah ini dimakan lah itu bisa menyebabkan infeksi bisa menularkan gitu ya," terangnya.
Oleh karena itu, Zuhrotul mengimbau masyarakat untuk menerapkan langkah-langkah pencegahan sejak dini melalui perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
"Upaya pencegahannya ya kita harus PHBS hidup bersih dan sehat seperti harus cuci tangan secara rutin dengan sabun dan air mengalir ya, terutama setelah kontak dengan hewan atau orang sakit," pungkasnya.
Editor : Redaksi