Dari Musisi hingga Politisi, Ahmad Dhani Cerita Perubahan Surabaya dan Keberaniannya

Reporter : Aldi Fakhrudin
Berlangsung ngobrol santai bersama Ahmad Dhani Prasetyo Anggota Komisi X DPR RI.

‎SURABAYA - Anggota Komisi X DPR RI Ahmad Dhani Prasetyo mengunjungi Gedung DPRD Kota Surabaya, Selasa (11/8). Kedatangannya bukan sekadar untuk melihat karya peserta Lomba Fotografi Jurnalis Dewan Surabaya (Judes) Indonesia, tetapi juga menjadi momentum untuk menyoroti perubahan wajah Surabaya dalam kurun lebih dari tiga dekade.

‎Dalam kunjungannya, Ahmad Dhani didapuk menjadi narasumber dalam acara bincang santai bersama Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kota Surabaya dan Ketua Pokja Judes Indonesia, Inyong Maulana. Forum tersebut membahas perjalanan Surabaya, perubahan sosial dan budaya, hingga bagaimana kota ini membangun identitasnya di tengah perkembangan kota-kota besar di Indonesia.

Baca juga: Pansus Raperda Banjir Surabaya Target Rampung 18 Agustus, Satgas hingga Sarpras Jadi Sorotan

‎Dhani mengaku memiliki pengalaman langsung melihat perubahan Surabaya sejak awal 1990-an. Menurut dia, wajah Surabaya saat ini jauh berbeda dibandingkan ketika dirinya mulai berkarier di dunia musik.

‎“Surabaya itu tidak kalah maju. Banyak daerah yang dulu kosong, tiba-tiba sekarang menjadi sebuah kota yang maju, penuh dengan gedung-gedung,” ujarnya.

‎Ia menilai, perubahan Surabaya tidak hanya terlihat dari pembangunan fisik, tetapi juga dari perubahan citra masyarakatnya. Dhani membandingkan persepsi terhadap warga Surabaya sekitar 35 tahun lalu dengan kondisi sekarang.

‎“Dulu ada semacam anggapan bahwa anak Surabaya itu anak daerah. Sekarang mungkin tidak seperti itu. Surabaya sudah menjadi identitas yang menarik,” katanya.

‎Dhani bahkan menyebut perubahan tersebut ikut menggeser cara pandang masyarakat luar terhadap warga Surabaya. Menurut dia, identitas Surabaya yang dahulu dianggap terlalu kental dengan karakter Jawa kini justru menjadi daya tarik tersendiri.

‎“Dulu kalau ada perempuan Surabaya yang cantik tetapi logatnya Jawa, cowok-cowok Jakarta bisa mundur. Sekarang malah rebutan. Sekarang itu menjadi menarik,” ujarnya disambut tawa peserta.

‎Lebih jauh, Dhani memberikan apresiasi terhadap para wali kota Surabaya dari berbagai periode yang dinilainya memiliki kontribusi terhadap transformasi kota. Ia secara khusus menyinggung era kepemimpinan Tri Rismaharini.

‎“Saya harus mengakui bahwa Kota Surabaya ketika Bu Risma menjadi wali kota mengalami perubahan yang nyata. Dulu Surabaya itu panas. Zaman saya memang panas. Sekarang jauh berbeda,” katanya.

Baca juga: Lomba Foto JUDES Tuai Pujian Anggota DPRD Kota Makassar

‎Menurut dia, perubahan tersebut tidak hanya menjadi persepsi masyarakat Surabaya. Ia mengaku sejumlah rekannya yang baru pertama kali berkunjung ke Surabaya juga memberikan penilaian serupa.

‎“Beberapa teman saya yang belum pernah ke Surabaya, ketika pertama kali datang ke Surabaya, suka. Mereka bilang, ‘Ini memang Surabaya sekarang jauh berbeda dengan Surabaya di zaman saya’,” tuturnya.

‎Dhani menilai pembangunan Surabaya perlu terus diimbangi dengan penguatan seni dan kebudayaan. Menurutnya, kemajuan infrastruktur harus berjalan beriringan dengan penyediaan ruang bagi musik, seni, dan kreativitas anak muda.

‎“Saya berharap fasilitas-fasilitas untuk dunia seni, musik, dan budaya tetap ada. Jangan sampai pembangunan kota justru membuat ruang kreativitas semakin jauh,” tegasnya.

‎Ia juga menyinggung karakter masyarakat Surabaya yang menurutnya memiliki keberanian menyampaikan kritik secara langsung. Sikap tersebut dinilai menjadi salah satu modal penting dalam mengawal pembangunan.

Baca juga: Lomba Foto JUDES Tuai Pujian Anggota DPRD Kota Makassar

‎“Kalau mengkritisi dan menyampaikan saran, mereka selalu to the point. Tidak bela-bela atau bagaimana. Saya yakin ini juga menjadi nilai tambah,” ujar Dhani.

‎Kunjungan Dhani ke DPRD Surabaya sekaligus memperlihatkan keterkaitan antara politik, kebudayaan, dan perubahan sebuah kota. Dari pengalaman sebagai musisi yang berangkat dari Surabaya hingga kini duduk sebagai anggota DPR RI, Dhani mengatakan perjalanan tersebut dibangun melalui keberanian mengambil keputusan.

‎“Saya dari Surabaya, bermain musik di Jakarta, itu sudah sesuatu yang nekat. Kemudian masuk ke bidang politik juga nekat,” katanya.

‎Melalui forum tersebut, Dhani berharap Surabaya tidak hanya mempertahankan predikat sebagai kota modern dan hijau, tetapi juga terus melahirkan identitas baru melalui seni, budaya, dan kreativitas masyarakatnya.

Editor : Redaksi

Politik
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru