PEMALANG - Suasana khidmat dan penuh keakraban menyelimuti warga Desa Mejagong, Kecamatan Randudongkal, dalam rangkaian perayaan malam 1 Suro atau Tahun Baru Islam. Ratusan warga berkumpul di samping Masjid Jami desa setempat untuk mengikuti kenduri dan tumpengan takir.
Acara ini dihadiri langsung oleh Camat Randudongkal, Agus Mulyadi, bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan.
Baca Juga: Tradisi Suro di Kawasan Gresik PPI: Wayangan “Semar Mbangun Kampung”
Tradisi tahunan ini bukan sekadar ritual keagamaan dan budaya, melainkan wujud syukur masyarakat atas limpahan rezeki serta keselamatan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Daya tarik utama dalam acara ini adalah kehadiran takir, wadah makanan tradisional dari daun pisang berbentuk cekung yang diisi nasi, lauk-pauk, dan sayuran.
Camat Randudongkal, Agus Mulyadi menjelaskan bahwa takir menjadi simbol kemandirian dan sedekah warga yang kemudian saling ditukar untuk dinikmati bersama.
Ia menyampaikan apresiasi tinggi kepada masyarakat yang konsisten nguri-uri (melestarikan) budaya leluhur di tengah arus modernisasi.
Baca Juga: Sambut 1 Suro dan Tahun Baru Islam, Warga Karangsari Ambil Air Suci di Lereng Gunung Slamet
"Kegiatan ini menjadi wujud pelestarian tradisi budaya sekaligus sarana mempererat kebersamaan, silaturahmi, dan rasa syukur masyarakat dalam menyambut Tahun Baru Islam," ujar Agus, baru-baru ini.
Ia berharap nilai-nilai luhur dan kearifan lokal yang terus dipertahankan ini dapat menjadi motivasi serta inspirasi bagi generasi mendatang.
Agus juga mengupas makna filosofis di balik kata takir yang kerap diartikan sebagai akronim dari tata dan pikir.
Baca Juga: Songsong Suro Polisi Sinergi dengan Tokoh Pencak Silat Jaga Kamtibmas
"Tradisi tumpengan takir ini bukan sebatas seremonial. Di dalamnya ada nilai luhur yang mengajarkan kita untuk tata (menata hati) dan pikir (menata pikiran), apalagi ini momen pergantian tahun. Harapannya, warga Kecamatan Randudongkal semakin rukun, guyub, dan sejahtera," imbuhnya.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan santunan anak yatim dan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat. Setelah doa pungkasan, tumpengan takir dibagikan ke seluruh warga.
Momen makan bersama ini sekaligus menjadi simbol runtuhnya sekat status sosial dan golongan di tengah masyarakat.
Editor : Redaksi