MAJALENGKA – Pemerintah Kabupaten Majalengka mencatat tren penurunan kasus HIV/AIDS dan malaria dalam beberapa tahun terakhir. Namun, jumlah kasus tuberkulosis (TB) yang ditemukan pada 2026 mengalami peningkatan karena semakin aktifnya kegiatan penemuan kasus melalui surveilans.
Data tersebut dipaparkan Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Majalengka, Taswara, dalam Rapat Koordinasi Rencana Tindak Lanjut (RTL) Penyusunan Roadmap 2026–2030 Penanggulangan AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria di Gedung Yudha Karya Pemda Majalengka, Kamis (23).
Baca Juga: Susun Roadmap 2026–2030, Bupati Eman: Penanggulangan AIDS, TB, dan Malaria Tak Boleh Setengah Hati
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka, kasus HIV/AIDS menurun dari 203 kasus pada 2024 menjadi 148 kasus pada 2025.
"Kemudian turun lagi menjadi 97 kasus hingga pertengahan 2026," jelasnya.
Sementara itu, kasus malaria juga menunjukkan tren positif. Tercatat terdapat 19 kasus pada 2024, turun menjadi 9 kasus pada 2025, dan kembali menurun menjadi 3 kasus hingga tahun 2026.
Baca Juga: Sepanjang 2025, Angka Kasus HIV/AIDS di Surabaya Turun 10 Persen
Berbeda dengan HIV/AIDS dan malaria, jumlah kasus TB yang ditemukan pada tahun berjalan meningkat. Pada 2024 tercatat 4.434 kasus, turun menjadi 2.600 kasus pada 2025.
"Lalu meningkat menjadi 2.885 kasus pada 2026," tambahnya.
Taswara menjelaskan peningkatan tersebut bukan berarti penyebaran TB semakin luas, melainkan karena kegiatan penemuan kasus melalui surveilans dilakukan lebih aktif.
Baca Juga: KPA Majalengka Luncurkan Website “Pojok Lajur Pesat” pada Peringatan Hari AIDS Sedunia 2025
"Sehingga lebih banyak penderita yang berhasil terdeteksi dan dapat segera memperoleh penanganan," ungkapnya.
Pemerintah Kabupaten Majalengka berharap penyusunan Roadmap 2026–2030 mampu memperkuat sinergi lintas sektor dalam pengendalian HIV/AIDS, tuberkulosis, dan malaria, sekaligus menghapus stigma terhadap para penyintas melalui dukungan sosial dan psikologis dari seluruh elemen masyarakat.
Editor : Redaksi