SURABAYA – Komisi D DPRD Surabaya melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke tiga puskesmas pada Selasa (25/2) malam. Hasilnya, layanan 24 jam yang diklaim ternyata tak sesuai kenyataan.
Anggota Komisi D, Imam Syafi’i, menyoroti puskesmas yang seharusnya buka 24 jam tetapi justru tertutup rapat. Bahkan, ada tenaga medis yang berjaga namun justru tidur saat bertugas.
Baca juga: DPRD Surabaya Desak Evaluasi Tim Asuhan Rembulan Usai Insiden Tragis Pengamen
"Kami mendapati pagar tertutup, lampu dipadamkan, bahkan pintu digembok. Ini bukan pelayanan 24 jam, ini hanya pencitraan," tegas Imam, Kamis (26/2).
Di Puskesmas Sidotopo Wetan, yang disebut sebagai salah satu puskesmas terbaik di Surabaya, tenaga medis justru minim. Sopir ambulans terpaksa merangkap sebagai petugas penerima pasien, sementara ruang UGD tak memenuhi standar. "Tabung oksigen dibiarkan terbuka, masker oksigen pun tidak tersedia," ungkapnya.
Baca juga: PKS Setuju P-APBD Surabaya 2025, tapi Beri Catatan Kritis soal UMKM hingga Transportasi
Kondisi lebih parah ditemukan di Puskesmas Peneleh, yang pintunya terkunci rapat. Tim sidak harus mengetuk pagar berkali-kali sebelum akhirnya dibuka. Hal serupa terjadi di Puskesmas Ketabang, yang berada di pusat pemerintahan kota. Gedungnya megah setelah renovasi, tapi pagar tetap tertutup dan dokter jaga tak ada di tempat.
Imam menegaskan, puskesmas di Surabaya belum siap melayani 24 jam. Kekurangan SDM, minimnya obat-obatan, hingga kebiasaan mengarahkan pasien ke layanan gawat darurat 112 tanpa upaya penanganan di tempat menjadi bukti nyata.
Baca juga: Komisi D Sambut Program Aisyiyah, Siap Jembatani Kerja Sama dengan Dinas Terkait
"Kalau memang tidak siap, jangan sekadar klaim. Jangan bohongi publik," pungkasnya.
Editor : Redaksi