PEMALANG - Tradisi berkirim makanan atau hantaran makanan (sering disebut juga ater-ater) menjelang puasa Ramadan, Sudah mengalami pergeseran dan cenderung berkurang, terutama terjadi di wilayah wliyah perkotaan, dibandingkan dengan masa lalu dimana tradisi ini sangat kental dilaksanakan oleh warga.
Akan tetapi secara keseluruhan di Pemalang, tradisi menyambut datangnya bulan Ramadan tidak sepenuhnya hilang, melainkan bertransformasi atau bertahan dalam bentuk lain.
Baca juga: Benteng Budaya Kediri Raya Kian Kokoh: Cak Hadi Salurkan Apresiasi untuk Para Penjaga Tradisi
Tradisi Megengan masih dilakukan oleh sebagian masyarakat kota bercorak agamais ini, Megengan sendiri berasal dari kata amengan atau menahan.
Di beberapa pasar Tradisi Likuran masih banyak dijumpai, dengan adanya beberapa penjual Serabi kecil atau Serabi Likuran, khususnya 10 hari terakhir Ramadan, Banyak pedagang Serabi di jumpai menjual Makanan khas bulan Ramadhan.
Baca juga: Tegal Desa, Napas Kebersamaan Warga Kupang Krajan
Menurut Sumedi, Warga kelurahan Bojongbata, kecamatan Pemalang menuturkan, jika tradisi hantaran makanan jelang puasa, sudah tidak ada, diganti dengan selamatan di Musala atau Masjid.
"Jelang Ramadan warga bawa makanan kebanyakan nasi bungkus,kemudian diserahkan pengurus musala, setelah terkumpul kemudian warga berdoa bersama, kemudian makanan tersebut dibagikan kembali ke warga," tuturnya,pada Selasa (10/2).
Baca juga: Tren Digital dalam Perayaan Lebaran: Tradisi Baru yang Semakin Digemari
Meskipun tradisi hantaran makanan ke tetangga Jelang Ramadhan berkurang, akan esensi berbagi masih ada melalui sedekah makanan yang lebih praktis atau tidak lagi menggunakan rantang susun secara masif seperti dulu.
Jadi, lebih tepat dikatakan bahwa tradisi tersebut mengalami pergeseran bentuk (transformasi) karena modernisasi, daripada benar-benar hilang sepenuhnya dari kehidupan masyarakat Pemalang.
Editor : Redaksi