Menuju Kemanusiaan yang Autentik di Era Algoritma

Mochamad Chazienul Ulum
Mochamad Chazienul Ulum

Dalam perspektif Erich Fromm (1968), seorang filsuf dan psikoanalis humanistik terkemuka, harapan bukanlah sikap pasif menunggu keajaiban atau sekadar berangan-angan kosong. Sebaliknya, ia adalah sebuah kondisi eksistensial dan mode keberadaan aktif yang berakar pada kesadaran mendalam akan berbagai kemungkinan masa depan.

Harapan sejati mencakup keyakinan dan hasrat kuat untuk mengubah keadaan. Dinamika psikologis di dalamnya cukup kompleks, melibatkan pergulatan antara kepercayaan pada potensi kemanusiaan dengan rasa khawatir/takut yang sering kali melumpuhkan tindakan.

Baca Juga: Pilkada di Tangan DPRD: Kemunduran Demokrasi atau Efisiensi Semu?

Fromm (1955) juga menyoroti bahwa keterasingan atau alienasi merupakan karakteristik utama yang menjangkiti masyarakat industri modern.

Manusia cenderung menjadi asing dari hasil pekerjaannya, asing dari sesama, dan yang paling tragis, asing dari dirinya sendiri. Kita berisiko kehilangan kontak dengan esensi batin dan bertransformasi menjadi "robot" di dalam birokrasi serta mesin konsumsi yang masif. Dalam karya monumental lainnya,

Fromm (1976) menjelaskan bahwa fokus hidup yang bergeser pada kepemilikan materiil (mode Having) daripada pengembangan eksistensi batin (mode Being) telah melahirkan apatis dan kecemasan kronis.

Relevansi pemikiran Fromm ini menemukan puncaknya pada fenomena media sosial di era digital.

Platform digital sering kali memperparah mode Having, di mana individu tidak lagi sekadar "mengalami" hidup, tetapi merasa harus "memiliki" pengalaman tersebut dalam bentuk dokumentasi digital demi pengakuan sosial. Kebahagiaan diukur dari jumlah pengikut, impresi, dan validasi visual yang memperkuat ilusi kepemilikan atas citra diri.

Hal ini menciptakan jenis keterasingan baru; manusia modern menjadi asing dari momen nyata karena lebih sibuk mengurasi etalase digitalnya. Media sosial sering kali menjebak kita dalam "harapan palsu" akan kebahagiaan yang semu, di mana nilai diri ditentukan oleh sekadar apa yang ditampilkan, bukan oleh kedalaman eksistensi batin.

Fenomena keterasingan ini berkembang secara masif seiring dengan pergeseran struktur ekonomi Indonesia dari basis agraris-komunal menuju industri digital yang sangat kompetitif.

Ketika masyarakat dipaksa masuk ke dalam ritme kapitalisme global, nilai gotong royong yang semula merupakan ekspresi autentik dari solidaritas sosial kini sering kali tereduksi menjadi sekadar jargon atau komoditas.

Koentjaraningrat (2004) telah memperingatkan bahwa mentalitas pembangunan yang mengalami disorientasi dapat mengikis jiwa gotong royong (kebersamaan) dan menggantinya dengan individualisme.

Dalam struktur kerja modern di kota-kota besar, seperti Jakarta atau Surabaya, individu tidak lagi bekerja sebagai manusia seutuhnya yang memiliki otoritas atas kreasinya, melainkan terjebak dalam spesialisasi yang sempit.

Baca Juga: Mampukah Indonesia Mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan?

Ketidakberdayaan ini menciptakan jurang pemisah antara jati diri pekerja dengan tujuan instansi-perusahaan yang kerap terasa abstrak dan impersonal, sehingga pekerjaan tidak lagi menjadi sarana aktualisasi diri melainkan beban eksistensial yang melelahkan.

Kondisi tersebut diperburuk oleh budaya konsumerisme yang menawarkan solusi instan atas kehampaan jiwa. Dalam mode kehidupan "memiliki" (having), manusia mencoba membuktikan eksistensinya melalui penguasaan objek-objek lahiriah.

Di Indonesia, fenomena ini termanifestasi dalam ketergantungan pada algoritma media sosial yang secara agresif mendikte standar kesuksesan dan gaya hidup.

Algoritma ini bekerja dengan mengeksploitasi rasa tidak aman dan kesepian para pekerja yang terasing, lalu mengarahkan mereka pada gratifikasi instan melalui belanja daring atau pemujaan terhadap citra diri digital. Kehampaan spiritual yang muncul akibat rutinitas pekerjaan yang mekanistik diisi oleh "kebisingan" informasi. 

Integrasi masyarakat ke dalam pasar global ini juga menciptakan apa yang disebut Fromm sebagai "karakter pemasaran." Di tengah masyarakat urban Indonesia, seseorang cenderung menilai dirinya sendiri dan orang lain berdasarkan nilai pasar; sejauh mana mereka bisa dijual atau seberapa menarik profil mereka di mata publik.

Hal ini menghancurkan kedalaman relasi antarmanusia karena interaksi sosial tidak lagi didasarkan pada kasih sayang atau kepedulian yang tulus, melainkan pada pertukaran kepentingan. Ketika manusia Indonesia kehilangan akar komunitasnya dan terjebak dalam mekanisme pasar yang dingin, mereka menjadi rentan terhadap kecemasan kronis dan kehilangan makna hidup.

Baca Juga: Generasi Muda dan Krisis Kepercayaan Diri

Harapan untuk kembali pada mode "menjadi" (being) semakin terhimpit oleh tekanan struktur ekonomi yang menuntut kecepatan tanpa henti, menjadikan revolusi batin sebuah kebutuhan mendesak untuk menyelamatkan kemanusiaan dari cengkeraman mekanisasi sosial yang impersonal.

Akhirnya, Revolusi Harapan bukanlah sekadar wacana intelektual, melainkan sebuah opsi eksistensial bagi setiap individu di tengah kepungan algoritma dan rutinitas yang menjemukan.

Kita saat ini sedang berdiri di persimpangan besar, di mana kita harus memilih untuk tetap menjadi sekrup yang patuh dalam mesin kapitalisme global atau berani merebut kembali otoritas atas jiwa kita sendiri.

Menyelamatkan kemanusiaan dari keterasingan berarti memiliki keberanian untuk melepaskan ketergantungan pada validasi semu dari mode "memiliki" dan mulai memupuk kembali kemampuan untuk "menjadi" yakni mencintai, mencipta, dan terkoneksi secara tulus dengan sesama.

Di tengah dunia yang menuntut kecepatan tanpa arah, harapan adalah sebuah tindakan pembangkangan yang indah; sebuah langkah awal untuk memulihkan martabat manusia Indonesia yang berakar pada kedalaman spiritual dan solidaritas sosial yang sejati demi masa depan yang lebih manusiawi.

*)Oleh: Mochamad Chazienul Ulum, Dosen Administrasi Publik Universitas Brawijaya Malang

Editor : Redaksi