JAKARTA - New Orleans digambarkan sebagai kota lembap, kumuh, dan penuh lorong gelap. Di sanalah Hard Target meletakkan konflik paling dasarnya: manusia miskin dijadikan sasaran berburu oleh orang-orang kaya yang bosan. Bukan metafora ini perburuan sungguhan.
Jean Claude Van Damme memerankan Chance Boudreaux, mantan marinir yang hidup menggelandang, keras kepala, dan tidak peduli pada siapa pun. Hidupnya berubah ketika ia membantu Natasha Binder mencari ayahnya yang hilang. Dari situ, Chance masuk ke jaringan permainan sadis yang dipimpin oleh Emil Fouchon (Lance Henriksen).
Baca juga: Forbidden City Cop (1996): Ketika Keseriusan Kekaisaran Kalah oleh Kegilaan yang Cerdas
Film debut Hollywood John Woo ini sudah memperlihatkan ciri khasnya: tembakan berlebihan, gerak lambat, duel tatapan, dan kekerasan yang terasa seperti balet. Peluru bukan cuma alat membunuh, tapi bahasa visual.
Namun di balik gaya flamboyan itu, Hard Target menyimpan kritik kelas yang lugas. Orang miskin tidak hanya dipinggirkan, tapi dikomodifikasi. Hidup mereka dihargai setara hiburan. Mereka mati tanpa nama, tanpa jejak.
Baca juga: The Shadow’s Edge: Ketika Penglihatan Menjadi Senjata, dan Bayangan Menjadi Kunci Kebenaran
Chance bukan pahlawan moral. Ia bertahan karena naluri. Ia menolak diburu, bukan karena idealisme, tapi karena harga diri. Di dunia yang menganggapnya sampah, tubuhnya menjadi satu-satunya alat perlawanan.
Aksi di film ini kasar dan frontal. Tidak ada psikologi rumit. Tidak ada penyesalan panjang. Hard Target tidak berpura-pura dalam. Ia tahu persis dirinya film aksi—dan menjalankannya dengan keyakinan penuh.
Baca juga: District 13 (2004): Ketika Kota Dikurung, Tubuh Menjadi Senjata Terakhir
Hasilnya adalah tontonan yang mungkin terasa berisik, tapi jujur. Sebuah film yang menunjukkan bahwa di tangan sutradara yang tepat, bahkan cerita paling sederhana pun bisa berubah menjadi pernyataan keras tentang kekerasan dan kekuasaan.
Editor : Redaksi