TURKI - Perjalanan ke Turki bukan sekadar kesempatan menikmati keindahan alam, menelusuri jejak sejarah peradaban, maupun memperluas wawasan pendidikan. Di balik perjalanan internasional bersama rombongan Muhammadiyah Kota Surabaya, terselip sebuah pengalaman spiritual yang meninggalkan kesan mendalam bagi Kepala SMK Muhammadiyah 1 Surabaya (SMK MUDISA), Irvandy Andriansyah.
Pada Jumat (6 November 2026), Irvandy berkesempatan menunaikan Salat Jumat di Harem Mosque, Cappadocia, Turki. Di negeri yang menyimpan jejak panjang peradaban Islam tersebut, lantunan azan menjadi pengingat bahwa panggilan Allah SWT melampaui batas negara, bahasa, dan budaya.
Baca juga: 100 Siswa SMK MUDISA Ikuti Screening Kesehatan, Bekal Penting Menyongsong Masa Depan
Bersama rombongan, Irvandy mengikuti rangkaian ibadah Jumat dengan khusyuk, mulai dari mendengarkan khutbah hingga melaksanakan salat berjamaah.
Sebuah pengalaman yang tampak sederhana, tetapi menyimpan makna mendalam. Ribuan kilometer dari tanah air, ia kembali merasakan bahwa umat Islam dipersatukan oleh satu ikatan keimanan.
Di tengah perjalanan mengenal berbagai warisan sejarah Turki, Harem Mosque menjadi ruang perenungan bahwa sejauh apa pun manusia melangkah menjelajahi dunia, hubungan dengan Sang Pencipta tetap menjadi hal yang tidak boleh dilupakan.
Khutbah Jumat disampaikan oleh Cemil Usta dengan pesan utama mengenai hakikat ibadah, ketakwaan, dan pentingnya menjadikan seluruh aktivitas kehidupan sebagai bagian dari amal saleh.
Dalam pesannya, ia mengingatkan bahwa ibadah bukan hanya ritual yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu. Lebih dari itu, ibadah harus tercermin dalam seluruh perilaku dan aktivitas manusia.
Salat menjadi tiang agama yang mendidik manusia menjauhi perbuatan keji dan mungkar, membersihkan jiwa, serta menghadirkan ketenteraman hati.
Puasa mengajarkan ketakwaan, kesabaran, dan kepedulian terhadap sesama. Zakat mendidik manusia membersihkan harta sekaligus mengikis sifat kikir. Sementara ibadah haji mengajarkan persaudaraan, kesetaraan, pengendalian diri, dan menjauhkan manusia dari permusuhan.
Ada satu pesan yang terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bahwa setiap pekerjaan dan perbuatan baik yang dilakukan dengan niat mengharapkan rida Allah SWT dapat bernilai ibadah.
Bekerja mencari nafkah secara halal, berdagang dengan jujur, belajar, mengajar, menjaga keluarga, membantu tetangga, memperhatikan anak yatim, hingga menolong orang yang sedang mengalami kesulitan merupakan bagian dari amal saleh.
Bahkan, senyuman, menyingkirkan sesuatu yang membahayakan orang lain dari jalan, serta mengulurkan tangan kepada mereka yang membutuhkan juga merupakan bentuk sedekah.
Pesan tersebut menegaskan luasnya makna ibadah dalam Islam. Kebaikan tidak selalu harus hadir melalui sesuatu yang besar. Terkadang, hal sederhana yang dilakukan dengan ketulusan justru memiliki nilai yang begitu berarti.
Surah An-Nahl Ayat 97: Janji Kehidupan yang Baik
Salah satu bagian khutbah yang memberikan kesan mendalam adalah ketika Cemil Usta membacakan firman Allah SWT dalam Surah An-Nahl ayat 97:
Artinya:
"Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan."
Ayat tersebut mengingatkan bahwa kehidupan yang baik tidak semata-mata diukur dari kekayaan, jabatan, popularitas, maupun pencapaian duniawi. Ada nilai yang jauh lebih mendasar, yakni keimanan, amal saleh, ketenangan hati, dan kebermanfaatan bagi sesama.
Khatib juga mengutip sabda Rasulullah Muhammad SAW:
"Sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit."
Baca juga: Menapaki Jalan Menjadi Guru, Enam Mahasiswa UMSURA Belajar di SMK MUDISA
Pesan ini menjadi pengingat bahwa kebaikan bukan hanya tentang semangat sesaat, melainkan tentang konsistensi. Sebab, kebiasaan baik yang terus dipelihara merupakan bagian penting dari perjalanan seorang muslim dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Irvandy Andriansyah: Pendidikan Harus Melahirkan Generasi Berilmu dan Berakhlak
Usai menunaikan Salat Jumat, Irvandy Andriansyah mengungkapkan bahwa pengalaman beribadah di Turki menjadi salah satu momen paling berkesan dalam perjalanan tersebut.
Menurutnya, perjalanan internasional tidak seharusnya hanya dimaknai sebagai kesempatan menikmati keindahan alam, mengenal kebudayaan, mengunjungi bangunan bersejarah, ataupun menjalin hubungan pendidikan antarnegara.
Lebih dari itu, perjalanan juga menjadi kesempatan memperkaya perspektif kehidupan sekaligus memperkuat keimanan.
"Alhamdulillah, di tengah perjalanan kami di Turki, Allah memberikan kesempatan untuk menunaikan Salat Jumat di Harem Mosque, Cappadocia. Ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Kita berada jauh dari Indonesia, tetapi ketika azan berkumandang, ayat-ayat Al-Qur'an dibacakan, dan seluruh jamaah berdiri dalam satu saf, terasa sekali bahwa umat Islam adalah satu keluarga besar," ungkap Irvandy.
Ia mengaku memperoleh banyak pelajaran dari khutbah yang disampaikan Cemil Usta, terutama mengenai bagaimana menjadikan pekerjaan dan seluruh aktivitas kehidupan sebagai ladang ibadah.
Bagi Irvandy, pesan tersebut memiliki relevansi kuat dengan dunia pendidikan, khususnya pendidikan kejuruan yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik dan keterampilan teknis, tetapi juga pembentukan karakter.
"Pendidikan tidak cukup hanya mencetak anak-anak yang pintar, memiliki keterampilan, dan siap bekerja. Kita harus membentuk generasi yang beriman, berakhlak mulia, jujur, amanah, peduli kepada sesama, serta memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan dan masa depannya," tegasnya.
Ia menambahkan, nilai-nilai tersebut sejalan dengan semangat SMK MUDISA dalam melahirkan generasi unggul dalam prestasi, berakhlakul karimah, terampil, mandiri, dan berdaya saing global.
"Jangan sampai kita hanya mengejar kesuksesan dunia, tetapi melupakan tujuan akhir kehidupan. Jadilah generasi yang hebat dalam ilmu, unggul dalam keterampilan, kuat dalam iman, santun dalam perilaku, serta selalu memberikan manfaat bagi orang lain," tambahnya.
Baca juga: Dua Tim Esports MUDISA Bersinar di Jatim Fest 2026, Bawa Pulang Juara 3 dan Tembus 5 Besar Jatim
Bagi Irvandy, pesan khutbah Jumat di Turki bukan hanya menjadi refleksi pribadi, tetapi juga mengandung pelajaran penting bagi para guru, tenaga kependidikan, peserta didik, dan seluruh keluarga besar SMK MUDISA.
Guru dapat menjadikan profesinya sebagai ladang ibadah. Siswa dapat memaknai belajar sebagai bentuk ikhtiar meraih masa depan. Orang tua menjalankan tanggung jawab mendidik dengan kasih sayang, sedangkan setiap pemimpin dituntut menjaga amanah dengan kejujuran dan ketulusan.
Kesuksesan pendidikan tidak berhenti ketika peserta didik memperoleh pekerjaan setelah lulus. Lebih dari itu, keberhasilan pendidikan tercermin ketika mereka tumbuh menjadi manusia yang mampu menjaga kehormatan diri, membahagiakan orang tua, bekerja secara profesional, serta memberikan manfaat bagi masyarakat.
Inilah pendidikan yang tidak hanya membangun kecerdasan, tetapi juga membentuk kepribadian. Tidak hanya mengembangkan keterampilan, tetapi sekaligus menguatkan keimanan.
Cappadocia dikenal dengan pesona lembah bebatuan, bangunan bersejarah, sera balon udara yang menghiasi langit. Keindahan alamnya menjadi daya tarik yang mengundang wisatawan dari berbagai penjuru dunia.
Namun, di balik segala pesona tersebut, Salat Jumat di Harem Mosque menghadirkan keindahan yang berbeda bagi seorang muslim: ketenangan saat bersujud, kekhusyukan dalam berdoa, dan kesadaran akan kedekatan dengan Allah SWT.
Ada pelajaran sederhana yang kembali diteguhkan dari Cappadocia. Bahwa perjalanan manusia bukan hanya tentang seberapa jauh tempat yang dikunjungi, seberapa banyak pengalaman yang dikumpulkan, atau seberapa tinggi jabatan yang diraih.
Namun, juga tentang seberapa kuat iman yang dijaga, seberapa konsisten kebaikan dilakukan, dan seberapa besar manfaat yang diberikan kepada sesama.
Salat Jumat di Cappadocia menjadi salah satu momen bermakna dalam perjalanan Irvandy Andriansyah di Turki. Sebuah pengalaman yang tidak hanya memperluas wawasan internasional, tetapi juga menguatkan keyakinan bahwa Islam menyatukan manusia melampaui batas negara, bahasa, budaya, dan bangsa.
Dari Surabaya menuju Turki, dari perjalanan dunia menuju perenungan tentang akhirat. Sejauh apa pun langkah kaki membawa manusia, jangan pernah membiarkan hati menjauh dari Allah SWT.
Semoga setiap perjalanan menjadi ilmu, setiap pertemuan melahirkan persaudaraan, setiap pekerjaan bernilai ibadah, dan setiap langkah kehidupan senantiasa berada dalam rida Allah SWT.
Editor : Redaksi