JAKARTA - Dreams bukan film yang ingin dipahami dengan logika. Ia ingin dirasakan. Seperti mimpi itu sendiri datang tanpa aba-aba, berjalan pelan, lalu meninggalkan kesan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Disutradarai oleh Akira Kurosawa, Dreams angkaian delapan fragmen mimpi yang sebagian terinspirasi dari pengalaman hidup sang sutradara. Tidak ada tokoh utama, tidak pula konflik tunggal. Yang ada hanyalah manusia, alam, dan rasa bersalah yang tumbuh diam-diam di antara keduanya.
Baca Juga: Bodyguard from Beijing (1994): Kesetiaan yang Tak Pernah Belajar Mengucap Rindu
Kurosawa membuka film ini dengan mimpi tentang hutan dan roh rubah, sebuah peringatan tentang batas yang dilanggar manusia. Lalu berlanjut ke dunia yang porak-poranda oleh perang dan radiasi nuklir, hingga lanskap pasca-apokaliptik yang sunyi tapi menakutkan.
Setiap segmen berdiri sendiri, namun diikat oleh kegelisahan yang sama: manusia terlalu sering lupa bahwa ia hanyalah bagian kecil dari alam.
Visual Dreams terasa seperti lukisan yang bergerak. Warna-warna cerah, komposisi yang rapi, dan ritme yang lambat membuat setiap adegan terasa sakral.
Dalam satu mimpi, kita diajak berjalan di antara lukisan Van Gogh sebuah penghormatan pada seni dan pencarian makna hidup. Dalam mimpi lain, gunung meletus dan iblis berkeliaran, bukan sebagai makhluk fantasi, melainkan akibat dari keserakahan manusia sendiri.
Baca Juga: 5 Film Jackie Chan yang Layak Ditonton Disela-sela Aktivitas Anda
Yang paling menyentuh adalah segmen terakhir: sebuah desa sederhana tanpa listrik, tanpa mesin, tanpa ambisi berlebihan. Di sana, kematian tidak ditangisi dengan histeria, melainkan diterima sebagai bagian dari kehidupan.
Kurosawa seolah ingin berkata: kebahagiaan tidak lahir dari kemajuan yang rakus, melainkan dari kesadaran akan batas.
Dreams adalah film perenungan. Ia tidak menawarkan solusi, tidak pula menggurui. Ia hanya memperlihatkan mimpi dan membiarkan penonton bercermin. Tentang bagaimana kita memperlakukan alam, tentang trauma yang diwariskan oleh perang, dan tentang ketakutan manusia akan kesunyian yang ia ciptakan sendiri.
Baca Juga: Priest (2011): Perang Usai, Teror Baru Dimulai
Dalam mimpi Kurosawa, yang paling menakutkan bukanlah monster. Melainkan manusia yang lupa cara hidup berdampingan.
Dreams mungkin tidak nyaman ditonton. Tapi justru di sanalah kekuatannya. Ia mengajak kita berhenti sejenak, menunduk, dan bertanya: mimpi seperti apa yang sedang kita bangun di dunia nyata?
Editor : Redaksi