Boss Ma’am (2024): Drama yang Menyentuh Batas Kepemimpinan dan Dilema Relasi

Boss Ma’am (2024), tangkapan layar
Boss Ma’am (2024), tangkapan layar

JAKARTA - Boss Ma’am hadir sebagai sebuah kisah yang tampak sederhana pada awalnya tentang pekerjaan, jabatan, dan kehidupan profesional.

Namun ketika cerita itu dibuka perlahan, kita disuguhkan lebih dari drama kantor atau relasi antar kolega.

Baca Juga: The Judge from Hell (2024): Ketika Keadilan Turun Bukan untuk Mengampuni

Film ini mengeksplorasi bagaimana kekuasaan, ambisi, dan hubungan interpersonal menempatkan perempuan dalam posisi yang sering kali tidak pernah ia pilih tetapi harus ia jalani.

Disutradarai oleh Iar Arondaing, film ini menempatkan V.A.D. (Jenn Rosa) sebagai sosok utama: seorang perempuan yang duduk di posisi bos kuat, tegas, dan berwibawa.

Posisi itu tidak otomatis membuatnya tak tergoyahkan. Di balik titel “Boss”, ada tekanan batin, tuntutan dari bawahan dan atasan, serta konflik yang muncul secara emosional dari dalam diri sendiri dan hubungan profesional.

Hubungan antara bos dan asistennya menjadi pusat konflik. Ketika asistennya Charm (Vern Kaye) mulai menggulirkan masalah yang bersifat pribadi dan profesional, V.A.D. dipaksa menghadapi bukan hanya permasalahan pekerjaan, tapi juga batasan dirinya sebagai perempuan yang memimpin.

Permainan kekuasaan itu bukan selalu tentang kemenangan mutlak seringkali soal pilihan yang harus diambil di antara moral, loyalitas, dan pengakuan diri.

Baca Juga: The Texas Chain Saw Massacre (1974): Teror yang Lahir dari Dunia yang Kehabisan Belas Kasih

Cerita berkembang bukan melalui aksi besar, tetapi melalui dialog dan ketegangan halus antara dua manusia dewasa yang saling mencoba memahami dan menaklukkan satu sama lain.

Chemistry antara Jenn Rosa dan Vern Kaye menjadi benang merah yang memandu emosi penonton dari ketegangan, frustrasi, hingga hal-hal kecil yang membawa kedekatan tanpa perlu kata-kata bombastis.

Aerol Carmelo dalam peran Jojo memberikan dimensi lain: peran sosial dan profesional yang berada di luar hubungan bos-asisten, tetapi tetap menekan dinamika emosi dan tanggung jawab di lingkungan kerja. 

Baca Juga: Women of Mafia (2018): Perempuan yang Bertahan di Dunia yang Tidak Pernah Ramah

Ketika pekerjaan mulai tumpah ke ranah personal, seluruh karakter dipaksa menimbang ulang prioritas mereka apakah kepemimpinan berarti harus kuat tanpa celah? Atau justru belajar menerima kelemahan sebagai bagian dari manusia?

Secara keseluruhan, Boss Ma’am menunjukkan kepemimpinan perempuan bukan tentang ketegasan, tetapi juga tentang keseimbangan antara empati, kekuatan, dan harga diri.

Film ini tidak terlalu dramatis secara struktural, tetapi justru lewat keheningan, tatapan, dan pilihan yang diambil tokohnya, penonton diajak memperhatikan kompleksitas emosi perempuan di balik titel “Boss”.

Editor : Redaksi