SURABAYA - Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Zuhrotul Mar'ah, menyoroti perkembangan kasus Tuberkulosis (TBC) di Kota Surabaya yang hingga pertengahan tahun 2026 menunjukkan peningkatan temuan kasus dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurutnya, peningkatan jumlah kasus yang ditemukan justru dapat dimaknai sebagai keberhasilan upaya penanggulangan TBC melalui penguatan tracing dan skrining yang dilakukan pemerintah.
Baca Juga: Imam Syafi'i Soroti Maraknya Kasus Anak di Surabaya, Minta Predikat Kota Layak Anak Dievaluasi
"Target estimasi kasus TBC di Surabaya tahun 2026 sebanyak 11.412 kasus. Saat ini yang sudah ditemukan sebanyak 4.191 kasus, terdiri dari 4.078 kasus sensitif obat dan 113 kasus resisten obat. Memang meningkat dibanding tahun lalu, tetapi kalau disikapi secara positif, ini menunjukkan semakin banyak kasus yang berhasil ditemukan," ujarnya, pada Minggu (21/6).
Ia berharap, pada tahun 2027 terjadi pelandaian kasus karena semakin banyak penderita yang terdeteksi lebih dini dan mendapatkan pengobatan hingga sembuh.
"Harapannya sebanyak mungkin kasus ditemukan pada 2026, kemudian diobati sampai sembuh. Dengan begitu pada 2027 kasus bisa melandai dan target Surabaya Zero TB pada 2030 dapat tercapai," ucapnya.
Zuhrotul menjelaskan, keberhasilan penanggulangan TBC sangat bergantung pada dua strategi utama, yakni tracing terhadap kontak erat pasien dan skrining terhadap kelompok masyarakat yang berisiko.
"Tracing menyasar orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC. Sedangkan skrining dilakukan kepada masyarakat yang belum bergejala, namun memiliki risiko tertular, termasuk penderita diabetes melitus yang wajib menjalani pemeriksaan TBC," jelasnya.
Berdasarkan data yang diterimanya, target penemuan suspek TBC di Surabaya pada tahun ini mencapai 61.624 orang. Hingga saat ini, sebanyak 44.088 suspek telah ditemukan atau sekitar 71,54 persen dari target.
Baca Juga: Uji Coba Perlinsos Digital, DPRD Surabaya Soroti Pentingnya Pembaruan Data Warga
"Artinya upaya tracing dan skrining yang dilakukan sudah berjalan cukup baik," tambahnya.
Terkait kelompok usia yang paling banyak terdampak, Legislator asal Partai PAN ini mengatakan, TBC dapat menyerang semua kelompok umur, mulai bayi hingga lansia. Namun, kasus terbanyak ditemukan pada usia produktif.
"TBC bisa menyerang semua rentang usia, tetapi yang paling banyak ditemukan berada pada usia produktif, yakni 15 hingga 55 tahun," katanya.
Ia juga menegaskan, bahwa meningkatnya jumlah kasus TBC tidak berkorelasi langsung dengan pertumbuhan jumlah penduduk Surabaya. Menurutnya, faktor lingkungan menjadi penyebab utama penyebaran penyakit tersebut.
Baca Juga: Gion Spa Buka Suara soal Dugaan TPPO, DPRD Tetap Minta Pengusutan Tuntas
"Surabaya memiliki banyak kawasan padat penduduk dan mobilitas masyarakat yang tinggi. Jika lingkungan padat tersebut memiliki ventilasi yang buruk, minim cahaya matahari, dan lembap, maka kuman TBC akan lebih mudah berkembang biak dan menular kepada masyarakat," terangnya.
Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat untuk meningkatkan kesadaran terhadap pola hidup sehat dan langkah-langkah pencegahan penularan TBC.
"Langkah pencegahan yang paling penting adalah menerapkan etika batuk dengan menutup mulut menggunakan tisu atau lengan bagian dalam, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, rutin berolahraga, serta menggunakan masker, terutama saat sedang sakit atau berada di lingkungan berisiko," pungkasnya.
Editor : Redaksi