Merawat Tradisi Menolak Bala, Mengintip Ruwatan Desa Glandang Bantarbolang Pemalang

Ruwatan Desa Glandang Bantarbolang Pemalang
Ruwatan Desa Glandang Bantarbolang Pemalang

PEMALANG - Nuansa pergantian tahun baru Islam atau yang akrab dikenal masyarakat Jawa sebagai bulan Suro selalu menghadirkan nuansa magis sekaligus religius.

Suasana khidmat dan semarak tampak begitu terasa di Desa Glandang, Kecamatan Bantarbolang, Kabupaten Pemalang, saat ribuan warga tumpah ruah menggelar tradisi Ruwat Desa.

Baca Juga: Tirakatan Hingga Tumpengan, Begini Keseruan Camat Randudongkal Bersama Warga Gelar Tradisi 1 Suro

Acara yang diinisiasi oleh Pemerintah Desa setempat bersama para tokoh adat dan pemuka agama ini bukan sekadar seremonial belaka.

Ruwat Desa menjadi wujud nyata pelestarian warisan leluhur yang dipadukan dengan nilai-nilai syiar Islam.

Kegiatan dibuka sejak pagi hari dengan pawai iring-iringan kirab budaya yang diikuti oleh ratusan anak-anak hingga orang tua.

Pawai ini melambangkan harapan akan datangnya cahaya dan semangat baru di awal tahun.

Puncak acara berupa pagelaran wayang golek akan digelar pada malam hari, sedangkan prosesi ruwatan dipimpin oleh salah seorang dalang terkenal dari Tegal.

Baca Juga: Bocah 6 Tahun Dilaporkan Tenggelam di Sungai Comal Tim SAR Masih Lakukan Pencarian

Sebelumnya, pada pagi hari digelar rangkaian arak-arakan dari 12 RT yang ada di Desa Glandang. Masing-masing RT membuat gunungan hasil bumi yang kemudian diarak keliling mengelilingi desa. Setelah prosesi ruwatan hasil bumi selesai, seluruh warga membawa kembali hasil bumi yang telah disucikan tersebut.

Pj Kepala Desa Glandang, Kecamatan Bantarbolang, Zainal Imron, mengatakan bahwa prosesi ruwatan desa dengan tema "Mandiri dan Berdikari" ini merupakan implementasi kemandirian warga.

“Kegiatan ini bernama ruwat bumi, baritan, atau sedekah bumi, dengan tema Mandiri dan Berdikari. Penyampaian pesannya nanti disesuaikan dengan gaya dalang, namun secara garis besar mengusung semangat kemandirian masyarakat,” tutur Zainal pada Rabu (24/6).

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa anggaran kegiatan sepenuhnya bersumber dari swadaya masyarakat.

Baca Juga: Pengemudi Mobil Online Pemalang Pasrah dengan Kenaikan Pertamax

“Setiap rumah tangga menyisihkan Rp500 setiap malam, dikumpulkan selama satu tahun penuh. Terkumpul sekitar Rp60–65 juta. Selain itu, ada bantuan dari donatur sekitar Rp80 juta,” ungkapnya.

Keterlibatan seluruh warga dan kemandirian dalam penggalangan dana ini dinilai menjadi contoh positif bagi desa-desa sekitar.

Panitia berharap tradisi ini terus dilestarikan dari generasi ke generasi agar nilai-nilai luhur, rasa syukur, dan persatuan tetap tumbuh subur di tengah masyarakat Desa Glandang.

Editor : Redaksi