Perempuan Sunda Melek Literasi Pelopor Kebangkitan Melalui Pendidikan

Reporter : M. Farhan
Ilustrasi

GARUT - Raden Ayu Lasminingrat, Ia bukan sekadar putri dari seorang penghulu dan ahli sastra ternama di wilayah Pasundan, tetapi juga pelopor kebangkitan perempuan melalui pendidikan.

Menurut Salman Faqih Wartawan Senior dan Pemerhati Sejarah Sunda, Raden Ayu Lasminingrat Terlahir dalam lingkungan keluarga terpandang. 

Baca juga: Warga Soroti Informasi Musyawarah Adat yang Libatkan Oknum Kepala KUA

Ia Lasminingrat tumbuh dengan akses terhadap ilmu pengetahuan yang pada masa itu belum tentu bisa dinikmati oleh semua perempuan. 

Ia menyadari bahwa pendidikan adalah kunci untuk mengangkat derajat kaum perempuan, khususnya di tanah Sunda.

Pada tahun 1907, ia mendirikan Sakola Kautamaan Istri. Namun pada masa awal berdirinya, sekolah tersebut hanya diperuntukkan bagi perempuan dari kalangan terpandang. Meski demikian, langkah itu menjadi fondasi penting dalam membuka jalan bagi pendidikan perempuan di Garut.

Kurikulum yang diterapkan di sekolah tersebut memadukan ilmu yang diperolehnya dari Belanda, seperti membaca dan menulis, dengan pelajaran pemberdayaan perempuan. 

Lasminingrat tidak serta-merta meniru sistem Barat, melainkan menggabungkannya dengan adat dan budaya Sunda agar lebih mudah diterima serta dipahami oleh masyarakat. Perpaduan inilah yang menjadikan pendekatannya unik dan relevan dengan kondisi sosial saat itu," katanya.

Baca juga: TMMD ke-127 Resmi Dibuka di Desa Sindangwangi, Percepat Pembangunan dari Desa

Salman menambahkan, Kemampuan Raden Ayu Lasminingrat dalam berbahasa Belanda pun mendapat apresiasi dari seorang pengelola perkebunan asal Belanda, K. F. Holle. Ia dikenal mampu menerjemahkan kisah-kisah karya Grimm bersaudara ke dalam bahasa yang dapat dipahami masyarakat setempat. Keahliannya pun membuktikan bahwa perempuan pribumi mampu bersaing dalam dunia literasi yang kala itu didominasi laki-laki dan bangsa asing.

Tak hanya bergerak di bidang pendidikan, Lasminingrat juga menorehkan karya sastra. 

Salah satu tulisannya yang populer berjudul Warna Sari, sebuah cerita pendek yang mengangkat ambisi dan keteguhan perempuan dalam memperjuangkan haknya, termasuk dalam persoalan percintaan dan perjodohan. 

Melalui tulisan tersebut, ia menyuarakan kegelisahan sekaligus harapan kaum perempuan pada zamannya.

Baca juga: BUMDesma Sauyunan Bagikan Dana Sosial kepada Masyarakat

Raden Ayu Lasminingrat menunjukkan bahwa perjuangan tidak selalu dilakukan dengan senjata. Ia memilih pena, buku, dan ruang kelas sebagai medan juangnya. 

"Dari Garut, ia menanam benih kesadaran bahwa perempuan berhak bermimpi, berpendapat, dan menentukan masa depannya sendiri," tambahnya, Kamis (12/2).

Kisah Raden Ayu Lasminingrat menjadi pengingat bahwa kemajuan perempuan hari ini adalah hasil dari keberanian para pelopor di masa lalu yang berani melangkah lebih dulu, meski jalan yang ditempuh tidak selalu mudah.

Editor : Redaksi

Politik
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru