Alumni FEB UNAIR Menembus Bank Global Belanda, Dari Surabaya ke Panggung Dunia

Reporter : Anil Rachman
Qatrunnada Rahmadhani

SURABAYA – Tidak semua orang berani memilih jalan yang belum banyak dilalui. Namun bagi Qatrunnada Rahmadhani, justru dari situlah perjalanan besarnya dimulai.

Dari bangku kuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, ia memutuskan mengambil langkah yang saat itu masih asing bagi sebagian mahasiswa: mengikuti program double degree ke Belanda. Bukan pilihan yang mudah, penuh ketidakpastian, tuntutan akademik yang lebih tinggi, hingga keharusan beradaptasi di lingkungan baru yang jauh dari rumah.

Baca juga: Kiprah Alumni FEB UNAIR: Dari Bangku Kuliah, Menjaga Ikatan dan Menebar Manfaat

“Waktu itu rasanya campur aduk. Takut pasti ada, tapi saya juga tahu kalau ingin berkembang, saya harus berani keluar dari zona nyaman,” kenangnya, Jum'at (24/4).

Keputusan itu menjadi titik balik. Qatrunnada tidak hanya lulus cumlaude dari program kolaborasi antara Universitas Airlangga dan institusi di Belanda, tetapi juga meraih dua beasiswa bergengsi: Holland Top Talent Scholarship dan Orange Tulip Scholarship.

Namun baginya, pencapaian tersebut bukan sekadar soal prestasi akademik.

“Yang paling berharga justru pengalaman dan jaringan yang terbuka. Dari situ saya mulai melihat dunia dengan cara yang berbeda,” ujarnya.

Langkahnya selepas lulus pun tidak selalu lurus. Ia sempat meniti karier di bidang corporate finance, sebelum akhirnya memutuskan beralih ke dunia perbankan dan pasar modal—sebuah keputusan yang kembali menuntut keberanian untuk memulai ulang.

Pilihan itu membawanya melanjutkan studi S2 dan membuka jalan menuju program traineeship di ABN AMRO Clearing Bank, salah satu institusi keuangan global dengan proses seleksi yang dikenal ketat.

Kini, ia bekerja sebagai Medior Corporate Action Specialist, menangani berbagai aksi korporasi seperti merger dan akuisisi keputusan-keputusan yang bisa memengaruhi arah investasi dalam skala besar.

Baca juga: Kiprah Alumni FEB UNAIR: Dari Bangku Kuliah, Menjaga Ikatan dan Menebar Manfaat

Di balik peran strategis tersebut, ada tanggung jawab yang tidak ringan.

“Di pekerjaan ini, detail kecil bisa berdampak besar. Kita harus benar-benar teliti, memahami risiko, dan siap bekerja dalam tekanan,” tuturnya.

Bekerja di lingkungan global juga membawanya pada standar profesionalisme yang tinggi. Namun alih-alih menjadi beban, hal itu justru menjadi ruang untuk terus bertumbuh.

“Setiap hari itu seperti belajar hal baru. Tantangannya besar, tapi di situ juga proses pendewasaan kita,” katanya.

Baca juga: Dikukuhkan Jadi Guru Besar Unair, Lutfi Soroti Peran Strategis Demografi dalam Pembangunan

Meski kini berkarier jauh dari tanah air, Qatrunnada tidak melupakan akar dan jejaringnya. Ia aktif dalam komunitas Indonesian Professional Association in the Netherlands, sekaligus ikut menghidupkan kembali jaringan alumni Universitas Airlangga di Belanda.

Baginya, perjalanan ke luar negeri bukan tentang menjauh, tetapi tentang membawa nilai dan koneksi untuk tetap terhubung.

“Ke mana pun kita pergi, kita tetap punya identitas. Justru dari luar negeri, kita bisa saling menguatkan dan membuka peluang bersama,” ungkapnya.

Kisah Qatrunnada menjadi pengingat sederhana: bahwa perjalanan besar sering kali dimulai dari keputusan kecil yang berani. Dari ruang kelas di Surabaya, langkahnya kini menjangkau panggung global membuktikan bahwa mimpi tidak mengenal batas, selama ada keberanian untuk melangkah.

Editor : Redaksi

Politik
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru