Alumni FEB UNAIR: Kuliah di Belanda Malah Makin Cinta Indonesia

Reporter : Anil Rachman
Qatrunnada Rahmadhani

SURABAYA - Di tengah tren generasi muda yang berlomba menembus studi dan karir global, kisah Qatrunnada Rahmadhani menawarkan sudut pandang yang tidak biasa. Alih-alih menjauh dari identitas, pengalaman tinggal di luar negeri justru mempertegas kedekatannya dengan Indonesia.

Nada sapaan akrabnya menjadi salah satu penerima dua beasiswa internasional bergengsi saat menjalani program double degree di Belanda, yakni Saxion Holland Top Talent Scholarship (SHTTS) dan Orange Tulip Scholarship (OTS) pada periode 2018–2019. Ia juga menuntaskan studinya dengan predikat cum laude dari Universitas Airlangga dan Saxion University of Applied Sciencesv.

Baca juga: Alumni FEB UNAIR Menembus Bank Global Belanda, Dari Surabaya ke Panggung Dunia

Namun, bagi Nada, pencapaian tersebut bukan sekadar soal prestasi. Ada proses yang lebih dalam yaitu memahami dunia sekaligus menemukan kembali posisi dirinya sebagai bagian dari Indonesia.

“Saya ingin mengeksplor dunia, belajar sekaligus bekerja di luar negeri. Tapi justru di sana, rasa nasionalisme saya semakin kuat,” ujarnya, Sabtu (25/4).

Pandangan itu sekaligus menjadi respons terhadap fenomena “kabur aja dulu” yang belakangan populer di kalangan anak muda. Nada menilai, narasi tersebut perlu diarahkan ulang, bukan sekadar pergi, tetapi membawa tujuan yang lebih jelas.

“Bukan kabur, tapi bagaimana kita bisa membawa nama Indonesia ke kancah internasional,” katanya. “Kita bisa menunjukkan bahwa Indonesia itu negara yang baik, dengan masyarakat yang ramah dan budaya yang kuat," tuturnya.

Pengalaman tinggal di Belanda mempertemukannya dengan realitas baru seperti perbedaan budaya, cara komunikasi, hingga pola kerja yang menuntut kemandirian.

Ia mengaku tidak mengalami perlakuan diskriminatif, tetapi justru belajar menjadi lebih adaptif dan sensitif terhadap lingkungan multikultural.

Proses itu tidak selalu mudah. Keputusan untuk berangkat ke luar negeri menjadi tantangan tersendiri, terutama sebagai anak tunggal.

Baca juga: Alumni FEB UNAIR Menembus Bank Global Belanda, Dari Surabaya ke Panggung Dunia

Ia harus meyakinkan orang tua bahwa langkah tersebut bukan sekadar ambisi, melainkan investasi masa depan.

“Saya sampaikan bahwa ini kesempatan untuk belajar dan berkembang. Kesempatan seperti ini tidak selalu datang dua kali,” ungkapnya.

Kini, pengalaman tersebut membawanya menempati posisi sebagai Medior Corporate Action Specialist di ABN AMRO Clearing Bank, Belanda.

Karier itu menjadi bukti bahwa jalur global bukan sekadar wacana, tetapi bisa dicapai melalui kombinasi kesiapan, keberanian, dan konsistensi.

Baca juga: Alumni FEB UNAIR Menembus Bank Global Belanda, Dari Surabaya ke Panggung Dunia

Meski demikian, Nada menegaskan bahwa bekerja di luar negeri tidak berarti memutus hubungan dengan tanah air.

Ia justru melihat peran diaspora sebagai bagian penting dalam mendukung kemajuan Indonesia.

“Nasionalisme bukan soal dimana kita tinggal, tetapi bagaimana kita tetap memberi manfaat untuk Indonesia,” tuturnya.

 

Editor : Redaksi

Politik
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru