XXY (2007): Saat Identitas Tak Lagi Hitam Putih

Tangkapan layar, film XXY
Tangkapan layar, film XXY

JAKARTA — XXY (2007) adalah film yang berani membicarakan hal yang sering dihindari: identitas diri. Disutradarai Lucía Puenzo, film asal Argentina ini menyentuh tema interseksualitas dengan cara yang lembut tapi dalam.

Cerita berpusat pada Alex (Inés Efron), remaja 15 tahun yang terlahir dengan kromosom ganda  XXY. Secara fisik, ia memiliki ciri laki-laki dan perempuan sekaligus. Bersama orang tuanya, Alex tinggal di pinggir laut Uruguay untuk hidup lebih tenang, jauh dari stigma.

Baca Juga: Interpretasi Modern dari Kisah Epik “The Odyssey’’ Dikemas Apik oleh Christopher Nolan

Ketenangan itu berubah saat keluarga teman lama ayahnya datang berkunjung. Di sana, Alex bertemu Álvaro, anak laki-laki dari tamu tersebut. Dari pertemuan itu, muncul perasaan yang rumit, antara keingintahuan, ketertarikan, dan kebingungan identitas.

Puenzo mengarahkan film ini tanpa sensasi. Ia menyorot Alex bukan sebagai “kasus medis”, tapi manusia yang ingin dimengerti. Kamera bergerak pelan, banyak diam, membiarkan penonton merasakan kebingungan yang sama seperti tokohnya.

Baca Juga: Film Epik "The Odyssey" Suguhkan Perjalanan Panjang Odysseus Pulang Pasca Perang Troya

Tema yang diangkat memang berat, tapi penyampaiannya justru penuh empati. XXY menunjukkan bagaimana keluarga berjuang menerima kenyataan, sekaligus melindungi anak mereka dari dunia yang mudah menghakimi.

Film ini bukan soal pilihan menjadi laki-laki atau perempuan, tapi tentang keberanian untuk tetap jadi diri sendiri. Tentang ruang aman bagi seseorang yang tubuh dan jiwanya tidak sesuai dengan kotak sosial yang sempit.

Baca Juga: The Marksman: Perjalanan Seorang Veteran Melindungi Bocah dari Kejaran Kartel

Dengan sinematografi yang sunyi dan akting natural, XXY terasa jujur dan manusiawi. Ia bukan film yang menggurui, melainkan yang mengajak kita menatap lebih lama  lalu memahami bahwa identitas bukan cuma label, tapi perjalanan.

Editor : Redaksi

Pendidikan   

Meretas Kebisingan

The Burnout Society Menurut DataReportal 2024, orang Indonesia rata-rata menghabiskan waktu 7 jam 38 menit setiap hari untuk berselancar di…