SURABAYA - Selain berkomitmen memperkuat pembangunan gizi masyarakat, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa juga menyoroti sejumlah tantangan yang masih dihadapi dalam pembangunan gizi, khususnya dalam percepatan penurunan stunting di Jawa Timur.
Tantangan pertama berkaitan dengan daya beli dan akses ekonomi masyarakat. Meskipun inflasi relatif terkendali, harga pangan sumber protein hewani masih dirasakan cukup berat oleh sebagian keluarga prasejahtera.
Baca Juga: Peringati Hari Gizi Nasional 2026, Khofifah Tegaskan Komitmen Perkuat Pembangunan Gizi Jatim
Tantangan berikutnya adalah literasi gizi masyarakat. Menurutnya Masih banyak yang memaknai makan cukup sebatas kenyang, tanpa memperhatikan komposisi gizi sesuai konsep Isi Piringku.
Selain itu, berbagai mitos pangan juga masih berkembang di masyarakat.
Padahal, pangan seperti ikan merupakan salah satu sumber protein terbaik yang sangat dibutuhkan untuk mendukung kesehatan ibu dan tumbuh kembang anak secara optimal.
"Edukasi gizi yang berkelanjutan menjadi kunci untuk mengubah pola pikir dan perilaku konsumsi masyarakat." kata Khofifah, Minggu (25/1)
Baca Juga: Misi Kemanusiaan di Aceh, Pemprov Jatim Hadirkan Layanan Kesehatan Holistik untuk Warga
Tantangan ketiga adalah meningkatnya konsumsi pangan industri dan makanan ultra proses. Kemudahan akses terhadap makanan instan dan jajanan minim nilai gizi menjadi tantangan serius, khususnya bagi anak-anak dan remaja.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, capaian pembangunan gizi Jawa Timur menunjukkan hasil yang sangat positif. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2024 yang dirilis Kementerian Kesehatan RI, prevalensi stunting di Jawa Timur turun signifikan dari 17,7 persen pada 2023 menjadi 14,7 persen pada 2024.
Capaian tersebut menempatkan Jawa Timur sebagai provinsi dengan prevalensi stunting terbaik di Pulau Jawa dan salah satu yang terendah secara nasional.
Baca Juga: Peresmian Huntara Trenggalek Lia Istifhama Apresiasi Gubernur Khofifah
Meski demikian, masih terdapat beberapa kabupaten/kota dengan prevalensi relatif tinggi sehingga memerlukan intervensi yang lebih terfokus dan berkelanjutan.
“Alhamdulillah, ini prestasi yang membanggakan. Namun ini bukan akhir perjuangan. Pencegahan stunting harus dilakukan secara konsisten sejak masa remaja, kehamilan, hingga 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Stunting bukan hanya soal tinggi badan, tetapi menyangkut kualitas masa depan anak bangsa,” tandasnya.
Editor : Redaksi