SURABAYA – Komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan terus ditunjukkan oleh PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) melalui pelestarian ekosistem mangrove di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak. Program yang telah berjalan sejak 2010 ini menjadi bukti nyata upaya menjaga keseimbangan antara aktivitas operasional pelabuhan dan kelestarian lingkungan pesisir.
Selama lebih dari satu dekade, TPS tidak hanya melakukan penanaman mangrove, tetapi juga memastikan keberlanjutannya melalui pemeliharaan, pengayaan vegetasi, serta perlindungan kawasan. Langkah ini terbukti mampu memperkuat ekosistem pesisir, menjadikannya lebih stabil dalam menahan abrasi serta menjaga kualitas perairan di sekitar terminal.
Baca juga: TPS Perkuat Kesiapan Operasional, Uji Ketangguhan Sistem Lewat Drill BCMS
Sekretaris Perusahaan TPS, Erika Asih Palupi, menegaskan bahwa pelestarian mangrove merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. Ia menyebut, keberadaan mangrove bukan sekadar elemen lingkungan, tetapi juga aset ekologis yang mendukung operasional pelabuhan yang lebih ramah lingkungan.
“Pelestarian ini tidak hanya menjaga keseimbangan ekosistem pesisir, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi keberlanjutan operasional pelabuhan,” ujarnya. Jum'at (10/4).
Kini, kawasan mangrove di TPS berkembang menjadi habitat yang kaya bagi berbagai flora dan fauna pesisir. Lebih dari itu, mangrove juga berperan penting dalam menghadapi perubahan iklim melalui kemampuannya menyerap dan menyimpan karbon (carbon sink).
Baca juga: TPS Perkuat Komitmen Pelindo Bersih, Sosialisasikan SMAP kepada Pengemudi Truk di Surabaya
Kemampuan sekuestrasi karbon tersebut menjadi kontribusi nyata dalam upaya dekarbonisasi, khususnya dalam menekan emisi dari aktivitas industri dan logistik di pelabuhan. TPS memanfaatkan pendekatan solusi berbasis alam (nature-based solutions) untuk memperkuat langkah ini.
Selain pelestarian mangrove, TPS juga mengembangkan penggunaan energi bersih dalam operasionalnya. Peralatan utama seperti Container Crane (CC) dan Rubber Tyred Gantry (RTG) kini menggunakan tenaga listrik, sehingga mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Bahkan, pemanfaatan panel surya mulai diterapkan sebagai bagian dari transisi menuju energi terbarukan.
Baca juga: Atasi Penumpukan Sampah, Baktiono Setuju Larangan Parkir Gerobak di TPS
“Integrasi antara pelestarian mangrove dan energi bersih adalah langkah konkret dalam menurunkan emisi karbon. Kami optimistis keberlanjutan lingkungan dan kinerja operasional dapat berjalan seiring,” tambah Erika.
TPS memandang pelestarian mangrove sebagai investasi jangka panjang yang tidak hanya berdampak ekologis, tetapi juga sosial dan operasional. Melalui langkah ini, TPS terus memperkuat visinya sebagai pelabuhan modern yang mengedepankan konsep Smart and Green Port, sekaligus menjadi contoh harmonisasi antara pembangunan dan kelestarian lingkungan.
Editor : Redaksi